Tags

, , , , , ,


Sumber : Bisnis Indonesia

Anthony Dio Martin

Kamis, 04 Oktober 2012 | 15:05 WIB

 

— Bisanya, cuma ngomong doang dan kadang menjanjikan banyak hal pada customer, tetapi suka berkelit saat mulai ditagih–

Baru-baru ini, seorang CEO multinasional berkata, “Pak Anthony, sekarang ini makin banyak lulusan perguruan tinggi yang keren-keren, CV-nya sih kalau dibaca kelihatannya hebat, tapi kalau sudah diterima, nuntutnya banyak hasilnya tidak seberapa! Atau, ada pengusaha lain yang mengeluh, “Di tempat kami, karyawannya makin bertambah, tapi profit perusahaan bukannya berkali lipat tapi masih sama aja. Ada apa dengan karyawan-karyawan ini?”

Memang. Selayaknya, kalau yang namanya karyawan adalah orang yang bisa mendukung bisnis dan kemajuan organisasi Anda. Namun, namanya juga gerombolan manusia yang berada dalam organisasi, akan ada yang bagus tapi bakalan ada juga yang tidak mampu, bahkan ada yang merusak. Realita menunjukkan, ada lima tipe karyawan yang bisa menjadi penghancur bisnis Anda. Ada beberapa alasan mengapa dikatakan sebagai penghancur bisnis Anda.

Mengapa Disebut Penghancur Bisnis? Pertama-tama, seharusnya yang namanya karyawan, dia memberikan kontribusi dalam bentuk produktivitas (target tercapai, atau kalau bisa justru hasilnya melebihi targetnya), membuat bisnis makin bertumbuh, memberi pelayanan yang semakin baik serta menciptakan proses bisnis makin yang efisien.

Namun, karyawan penghancur bisnis ini sifatnya betul-betul bertolakan dengan apa yang disebutkan ini. Dan ujung-ujungnya, jika dibiarkan untuk jangka panjang, bisnis Andalah yang hancur.

Ini dapat diibaratkan seperti virus yang menjangkiti PC atau laptop Anda. Ada yang langsung membuat laptop Anda rusak, tapi justru yang parah adalah adanya virus yang  perlahan tapi lama-lama komputer Anda jadi ‘crash’ sehingga tidak bisa digunakan sama sekali. Inilah tipe yang berbahaya.

Di sisi lain, kita perhatikan bahwa biaya dan gaji tiap bulannya untuk karyawan tersebut tetap jalan tapi produktivitas yang diberikan bukan membaik, malah sebaliknya. Nah, apa sajakah ke lilma tipe karyawan ini? Mari kita bahas!

 

Inilah lima tipe karyawan penghancur bisnismu.

TERNAK MALAS

Tipe yang pertama, kita sebut tipe si ternak malas. Kalau kita bicara soal ternak, kan ada ternak yang betul-betul produktif tetapi ada yang kerjanya bermalas-malasan menunggu disembelih?

Kalau disebutkan ciri-cirinya, mereka biasanya datang jam 8.30 pulang 5.30 sesuai jam kerja. Mereka minta disuapin dan sekaligus amat penuntut. Ibaratnya mereka akan  diam selama dikasih makan tetapi ketika telat diberi imbalan ataupun dirasa kurang, mereka akan teriak-teriak.

Namun demikian, kontribusinya mereka pada dasarnya sebenarnya sedikit, bahkan hampir nggak ngapa-ngapain setiap hari alias malas. Prinsip mereka adalah  “The company should take care of me”  (perusahaan mestinya menjaga saya). Contohnya seorang karyawan bernama Atisah di bagian Audit.

Tiap hari, dia hanya mengerjakan apa yang rutin dikerjakan, ketika bel bunyi, ya langsung pulang.  Bahkan, kalau tidak ada pengawasan, kerjanya bisa cuma main game dan, baca koran serta tidak ngapa-ngapain. Setiap bulan menunggu gajian, syukur-syukur dikasih tambahan. Itulah sekilas soal si ternak  malas ini.

 

MASA BODOH

Tipe kedua adalah tipe si masa bodoh. Ciri-ciri utama karyawan tipe ini adalah  tidak mau tahu, tidak punyasense of customer service, kerja menurut seleranya dia, tidak mau tahu urusan orang, tidak mau tanggung jawab apalagi kalau ada masalah.

Memang sih, kelihatannya agak sedikit lebih mendingan daripada tipe si ternak malas. Namun, pada dasarnya sebenarnya sama saja, mereka tidak memberikan improvement apapun. Prinsip mereka dalam bekerja adalah “It’s not my business, so why care too much” (ini bukan bisnis saya, kenapa mesti terlalu peduli amat).

Sebagai contohnya kasus Benika yang kerja dibagian engineering. Kebiasaannya adalah mengerjakan tugasnya se-ala kadarnya, rutin. Namun pikirannya adalah kalau sedikit kerja saja sudah cukup kenapa mesti kasih inisitif dan membuat perbaikan? Toh yang kaya adalah bos kita.

Ketika ada customer yang komplain, sikap Benika adalah melempar ke bagian lain atau membiarkan begitu aja, toh menurutnya yang komplain akhirnya akan diam juga.

 

MULUT BESAR

Tipe ketiga berikutnya adalah tipe si mulut besar. Biasanya ciri-cirinya adalah kalau meeting bicaranya paling gede, banyak menjanjikan dan ngomong-nya paling banyak tetapi tidak ada hasilnya. Kadangkala kita lihat proyeknya terlambat atau malahan tidak seperti yang dikatakan, tetapi hobinya mengobral janji sana sini (khususnya dengan customer).

Kenyataannya, banyak dari janjinya yang tidak terpenuhi. Prinsipnya kerjanya, “Talk first, because that what people want to hear” (asal bicara aja dulu, karena itulah yang biasanya orang ingin dengarkan). Misalkan saja, kasusnya Jane. Kebiasaannya, kalau rapat bicaranya paling hebat, suka mencari muka, biar kelihatan hebat di mata bos, tetapi tidak ada yang direalisasikannya. Bisanya, cuma ngomong doang dan kadang menjanjikan banyak hal pada customer, sama bawahannya, tetapi suka berkelit saat mulai ditagih!

 

POLITIKUS

Tipe keempat adalah tipe si politikus. Kebiasaan mereka adalah suka kasak kusuk dan suka mengumpulkan massa. Mereka punya pengaruh tetapi lebih sibuk mengurusi dan membicarakan apa yang tidak beres, serta seringkali jadi provokator.

Kesannya sih mendengarkan aspirasi rakyat tetapi kadang-kadang mereka ‘memancing di air keruh’ dengan menghasut. Prinsipnya ya seperti seorang politikus, “Organization is power struggle, either they win or you win” (organisasi adalah seperti tempat perjuangan kekuasaan, entah kamu yang menang atau dia yang menang).

Misalkan saja, kasus Pak Manan yang seorang  supervisor di pabrik. Pembawaan Pak Manan ini tenang dan anteng tetapi sering bergerilya megumpulkan massa. Biasanya, di depan meeting dia akan tampak baik-baik saja, tetapi apapun yang ada di meeting bisa di ‘bocor’ kannya plus dengan fakta yang seringkali sudah diplintir olehnya.

 

KRIMINAL

Tipe kelima, kita sebut sebagai tipe si kriminal. Ciri-ciri utama mereka adalah suka mencuri dari perusahaan (mengambil apapun yang bisa diambil dari perusahaan, mulai dari ide sampai benda). Atau, melakukan sesuatu yang merugikan ataupun membahayakan organisasi namun meraka tidak punya rasa bersalah sama sekali.

Prinsipnya mereka ini adalah “Take as much as you can, while you can” (ambil sebanyak-banyaknya, mumpung masih bisa). Misalkan saja, kasus Erminto, seorang salesman mesin.  Apa yang dilakukannya? Erminto ini bahkan diam-diam membuat bisnis kompetitor dari perusahaannya, diam-diam bahkan seringkalispart part mesin di perusahan tempatnya bekerja dipreteli olehnya.

 

Mengapa and Apa?

Mengapa dan apa tipnya? Pertanyaan yang sering muncul adalah “Mengapa dan apa yang membuat mereka menjadi karyawan yang seperti itu? Kalau diteliti, ada beberapa alasan umum: pertama, bisa jadi memang sudah jadi karakternya, bisa pula karena adanya rasa sakit  hati akibat suatu pengalaman tertentu atau perlakuan buruk yang pernah diterimanya dulu. Atau, bisa pula akibat sudah terbiasa dari pengalaman dan cara kerja di tempatnya dulu.

Alasan terakhir adalah karena sudah terbiasa dari pengalaman dan cara kerja di masa lalu. Atau bisa jadi karena  memang tidak pernah ditegur, dimonitor dan diberikan inspirasi sama sekali untuk menjadi karyawan yang lebih baik.

 

Langkah-langkah yang musti ditempuh

Lantas, apakah yang mesti dilakukan ketika mempunyai karyawan yang semacam ini? Secara umum, adalah dengan menerapkan kaidah APES yakni Awasi (lihat dan monitor), Petakan (tentukan siap-siapa yang perlu diawasi), Edukasi (kasih pelatihan ataupun bimbingan) dan jika tidak berhasil juga, adalah langkah tegas dengan…. Sembelih! (msb)