ULASAN PRABOWO SUBIANTO

Sahabat, salah satu cara paling efektif menghadapi isu SARA yang bertujuan untuk memecah persatuan kita, adalah dengan melakukan cara-cara untuk meningkatkan rasa persatuan kita. The best defense is a good offense.
Silahkan sebarkan catatan saya berikut ini menggunakan Facebook, Twitter, email, SMS, dan media lain ke tetangga, teman, dan kerabat.

*** Bersatu untuk Indonesia Raya ***
Baru saja kita merayakan hari kemerdekaan kita yang ke 67. Kemerdekaan bangsa kita direbut melalui suatu perjuangan yang lama, yang berpuncak pada perang kemerdekaan dari 17 Agustus 1945 hingga kedaulatan diserahkan kepada kita pada tahun 1950.
Adalah fakta sejarah, bahwa semua unsur rakyat Indonesia terlibat dalam perjuangan tersebut. Perjuangan kemerdekaan kita adalah perjuangan seluruh rakyat Indonesia. Pejuang-pejuang berikut ini saya ambil sebagai contoh bahwa anak bangsa Indonesia dari berbagai suku, berbagai daerah, berbagai ras dan berbagai agama telah memberikan pengorbanan tertinggi, yaitu jiwa dan raga mereka kepada bangsa dan negara Indonesia, untuk Indonesia merdeka.

Letkol I Gusti Ngurah Rai

Setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, atas inisiatif sendiri I Gusti Ngurah Rai datang ke Jakarta untuk menghadap Panglima Besar Jendral Sudirman dan meminta mandat untuk membentuk pasukan TRI (Tentara Republik Indonesia) di daerah Bali dan Nusa Tenggara, daerah yang pada saat itu disebut Sunda Kecil. Ia kemudian kembali, merekrut pasukan dan mulai melakukan serangan-serangan terhadap pos-pos Belanda di Bali.
Menjelang September 1946, Belanda melakukan offensive yang pada tanggal 19 November 1946 berhasil mendekati posisi pasukan yang dipimpin oleh I Gusti Ngurah Rai sendiri. Pada saat itu, Letkol I Gusti Ngurah Rai menjabat Komandan Resimen TRI Sunda Kecil (setingkat Pangdam pada saat ini).
Setelah berhasil mengepung pasukan Ngurah Rai di Desa Margarana, Belanda sempat mengirim utusan untuk meminta Letkol I Gusti Ngurah Rai menyerah dengan pasukannya. Apabila ia menyerah, ia dan pasukannya akan dibiarkan hidup. Namun ultimatum Belanda dijawab oleh I Gusti Ngurah Rai dengan teriakan “puputan” yang berarti “bertempur sampai titik darah penghabisan.
Pertempuran terjadi sejak pagi dengan sangat hebat, dan baru berakhir pada sore harinya. Pasukan TRI gugur semua, termasuk Komandan Resimen TRI Sunda Kecil I Gusti Ngurah Rai bersama kepala staff beliau, Mayor I Gusti Putu Wisnu.
Sikap dan tindakan Letkol I Gusti Ngurah Rai membuktikan patriotisme mereka tidak hanya mereka kumandangkan di mulut tetapi mereka buktikan dengan darah mereka yang telah membasahi bumi pertiwi. Letkol I Gusti Ngurah Rai kebetulan beragama Hindu.

Robert Wolter Monginsidi


Pada tanggal 17 Juli 1946, Robert Wolter Monginsidi yang lahir di Manado, Sulawesi Utara, membentuk suatu pasukan geriiya yang dinamakan Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS). Pasukan ini terus menerus melakukan perang gerilya terhadap Belanda di Sulawesi Selatan. Mereka menyerang asrama Belanda, menghadang konvoi-konvoi Belanda, dan melakukan penghadangan-penghadangan terhadap patrol-patroli Belanda.
Dalam suatu operasi besar-besaran pada tabggal 28 Februari 1947, Belanda berhasil menangkap Monginsidi. Pada 27 Oktober 1947 ia berhasil meloloskan diri dan mulai menyerang kembali pos-pos Belanda. Namun, tidak lama kemudian Monginsidi tertangkap kembali untuk kedua kalinya. Ia diadili oleh Belanda, dan dalam proses pengadilan ditawarkan: kalau ia menyatakan berhenti mendukung Republik Indonesia, ia akan mendapatkan hukuman yang ringan. Namun apabila ia terus setia kepada Republik Indonesia, ia akan dijatuhkan hukuman mati.
Ia jawab kepada hakim, “Hukum matilah saya, jika tidak kamu nanti yang saya bunuh pertama kali”. Surat keputusan pengadilan langsung ditandatangani oleh Monginsidi. Pada saat pelaksanaan hukuman mati, Belanda bertanya kepadanya apakah ada kata-kata terakhir. Monginsidi meminta ijin untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya. Kemudian ia mengatakan kepada regu tembak, laksanakan kewajiban kalian, tembaklah dengan tepat sasaran.
Robert Wolter Monginsidi gugur pada usia 24 tahun. Beliau telah memberikan jiwa dan raganya untuk Indonesia merdeka. Ketika hendak dimakamkan, ditemukan kitab suci Nasrani milik Mongindisi. Di dalam kitab tersebut, ditemukan secarik kertas dalam tulisan tangan, Setia sampai akhir dalam keyakinan. Sebelum dihukum mati, ia sempat mengirimkan beberapa surat, salah satunya kepada kekasihnya yang bernama Nina. Di dalam surat tersebut ia mengatakan, Semua air mata yang sudah dicurahkan, akan menjadi suatu fondasi yang kukuh kepada tanah kita yang kita cintai, yaitu Republik Indonesia‚ (7 Juni 1949).
Kemudian dalam surat kepada adiknya Marie, Monginsidi menulis: Jangan takut melihat massa yang akan datang. Saya telah turut membersihkan jalanan bagi kalian walaupun belum semua kekuatanku aku gunakan. Ada lagi surat Monginsidi kepada adiknya Opie, dimana ia menuliskan: Apa yang saya bisa tinggalkan hanya roh ku saja, roh yang setia sampai akhir kepada tanah air, menuju kepada cita-cita kebangsaan.

 

Ignatius Slamet Riyadi

Dalam usia yang sangat muda, belasan tahun, Ignatius Slamet Riyadi berhasil membentuk suatu pasukan gerilya untuk mendukung proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Ia menghimpun para pemuda ex PETA, Heiho dan Kaigun untuk menyerang pasukan Jepang di kota Solo.
Dalam pertempuran-pertempuran, Slamet Riyadi selalu berada di depan pasukannya. Slamet Riyadi dengan pasukannya menjadi terkenal, bahkan legendaris, karena berhasil mengimbangi kekuatan pasukan Belanda. Slamet Riyadi membuktikan bahwa TNI dan Republik Indonesia mampu menyerang pusat kekuatan Belanda, antara lain kota Solo, yang pada waktu itu dipertahankan dengan persenjataan berat-artileri, pasukan infantri dan komando yang tangguh. Slamet Riyadi yang memiliki pangkat Letnan Kolonel, adalah prajurit yang menerima otoritas kota Solo dari pihak Belanda.
Slamet Riyadi melanjutkan karir di TNI sampai dengan saat penumpasan pemberontakan RMS di Ambon, ia ditunjuk sebagai pimpinan operasi dengan pangkat Kolonel. Ia berhasil memimpin perebutan kota Ambon kembali dari tangan pemberontak. Tetapi, dalam pertempuran dekat Benteng Victoria, ia terkena tembak saat memimpin anak buahnya di garis paling depan.
Kolonel Ignatius Slamet Riyadi kita kenal juga sebagai penggagas pembentukan pasukan khusus TNI yang sekarang kita kenal dengan nama Kopassus. Kebetulan ia seorang dari suku Jawa yang menganut agama Katolik.

Daan Mogot

Daan Mogot adalah seorang perwira TRI yang tergolong sangat cemerlang kariernya. Ia menjadi Mayor pada usia 16 tahun setelah mengikuti pendidikan PETA pada usia 14 tahun.
Karena kegigihan dan keberhasilannya memimpin pasukan, ia menjadi direktur Akademi Militer Tangerang yang diberi tugas untuk mendidik calon-calon perwira Indonesia untuk ikut serta dalam perang merebut kemerdekaan.
Pada tanggal 25 Januari 1946, Mayor Daan Mogot dengan beberapa perwira dan pasukan tarunanya terlibat dalam pertempuran Lengkong di Tangerang dalam usaha merebut senjata untuk TRI. Dalam pertempuran tersebut, ia gugur bersama 36 perwira dan taruna. Diantaranya yang gugur adalah dua orang paman saya Letnan Satu Subianto Djojohadikusumo, dan Kadet Suyono Djojohadikusumo. Sujono pada saat itu usianya baru 16 tahun.

Laksamana Muda John Lie

Laksamana Muda John Lie alias Jahja Daniel Dharma adalah seorang perwira Angkatan Laut Indonesia yang berasal dari etnis Tionghoa. Ia lahir di Manado, Sulawesi Utara pada tanggal 19 Maret 1911 dari ayah bernama Lie Kae Tae dan ibu bernama Oei Tjeng Nie Nio.
Selama perang kemerdekaan, ia bertugas dengan sangat cemerlang, menerobos blokade maritim Belanda untuk menyelundupkan senjata dari Singapura dan Malaya untuk pasukan-pasukan TNI di Jawa. Ia meneruskan kariernya setelah perang kemerdekaan, dan terlibat dalam berbagai operasi untuk membela negara dan bangsa di berbagai wilayah Republik Indonesia.
John Lie meninggal dengan pangkat Laksamana Muda TNI pada tanggal 27 Agustus 1988. Atas jasa dan pengabdiannya, ia dianugerahi Bintang Mahaputera Utama oleh Presiden Soeharto pada 10 Nopember 1995, dan Bintang Mahaputera Adipradana dan gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 9 November 2009.

 

Ini adalah contoh beberapa anak-anak Indonesia yang kebetulan berasal dari golongan minoritas. Ada yang beragama Hindu, ada yang Katolik, ada yang Protestan, ada yang keturunan etnis Tionghoa.
Tentunya, ada banyak anak bangsa yang beragama Islam, yang terlibat dalam merebut kemerdekaan Indonesia. Misalkan, kita mengenal kepahlawanan Jendral Sudirman yang dalam keadaan sakit memilih memimpin pasukan gerilya di gunung. Jendral Sudirman adalah suatu contoh keteladanan yang tidak ada taranya dalam sejarah Republik kita. Kita bisa bayangkan, teladan apa yang dapat diwariskan pada generasi penerus manakala pada saat itu Panglima Besar TNI yang pertama, tertangkap hidup oleh musuh. Beliau sadar bahwa dengan bergerilya dalam keadaan sakit paru-paru, kemungkinan beliau selamat sangat kecil.
Tentunya siapa diantara kita yang tidak kenal Soekarno, Mohammad Hatta, Ki Hajar Dewantara, Ki Bagus Hadi Kusumo, Wahid Hasyim dan yang lain. Mereka sudah sangat dikenal.

Dari cuplikan kisah-kisah diatas, saya ingin memberikan gambaran bahwa kemerdekaan kita direbut oleh seluruh rakyat, dari semua suku bangsa, kelompok etnis dan agama.

Dalam perjalanan masa tugas saya sendiri sebagai perwira TNI, banyak prajurit yang gugur dibawah komando saya. Diantaranya saya ingat Sersan Dua Stefanus yang gugur di daerah dekat Sungai Kraras, Timor Timur pada tahun 1984 waktu menyerang kedudukan musuh. Sersan Stefanus meninggalkan seorang ibu dan seorang istri, serta seorang bayi kecil.

Saya juga ingat Letnan Dua Infanteri Siprianus Gebo, perwira lulusan Akabri tahun 1988 yang berasal dari Ende, Nusa Tenggara Timur. Siprianus Gebo gugur pada saat ia menyerbu suatu kamp gerilya di lereng Gunung Bilo, Vikeke, Timor Timur. Siprianus Gebo adalah seorang perwira teladan, seorang yang riang gembira yang sangat berprestasi, dari keluarga yang sederhana. Ia gugur saat masih bujangan. Ia telah memberi jiwa dan raganya untuk bangsa dan negara. Oleh negara ia diberi bintang tertinggi untuk keberanian, yaitu Bintang Sakti, dan dinaikkan pangkatnya satu tingkat.

Saya sempat datang ke rumah keluarga Siprianus Gebo, dan menjumpai ibunya setelah sekian tahun pada tahun 2009. Ibunya hidup dalam keadaan sangat sederhana. Putra kesayangannya, harapan hidupnya, telah tiada – tetapi ibunya tetap tabah walau harus hidup dalam keprihatinan.

Saya juga ingat dua sukarelawan Timor Timur yang berjuang dan bertempur bersama saya di tahun 1978. Keduanya adalah keturunan etnis Tionghoa. Yang satu dikenal dengan nama Domingus “Cina” dari Ossue, yang satu bernama Roberto Lie Lin Kai, adik dari seorang tokoh Tionghoa dari Vikeke bernama Fransisko Ciko Lie. Dua sukarelawan tersebut bertempur bersama pasukan TNI tanpa pangkat, tanpa jabatan dan tanpa ikatan dinas di hutan dan di gunung Timor Timur untuk Indonesia. Mereka menjadi pengawal setia saya. Saya sedih karena tidak tahu apa yang terjadi kepada mereka. Adalah pekerjaan rumah saya untuk terus mencari bagaimana nasib mereka sekarang.

Sukarelawan lain yang kebetulan beragama Nasrani (Kristen Katolik), yang gugur untuk Indonesia: Jose Fernandes, komandan kompi Partisan, gugur di Vikeke tanggal 17 Agustus 1983; Joaquin Monteiro, komandan kompi Partisan “Makikit”, gugur di Ossu bulan Februari 1986; Gilberto Gutteres, wakil dari Joaquin, gugur di Baucan tahun 1989; Juliao Fraga, komandan kompi SAKA, gugur 24 Oktober 1996 di Bancau. Kebetulan saya kenal dekat dengan mereka. Mereka pribadi-pribadi yang berani, tulus dan sangat setia kepada Merah Putih. Mereka tidak memiliki jabatan, pangkat dan gaji yang tetap. Mereka sungguh patriot sejati.

Selain kisah-kisah mereka yang angkat senjata untuk Republik Indonesia, ada juga pahlawan-pahlawan yang mengharumkan nama bangsa Indonesia di bidang lain. Salah satu yang paling menonjol diantaranya adalah Tan Joe Hok, orang Indonesia pertama yang menjuarai All England dan meraih medali emas Asian Games. Pada saat itu bulutangkis belum masuk olimpiade.
Kita juga kenal Rudi Hartono, yang nama Tionghoanya adalah Nio Hap Liang. Ia mengharumkan nama Indonesia selama delapan kali memenangkan kejuaraan All England. Liem Swie King juga lima kali menjadi juara All England, meraih medali emas Asian Games di Bangkok 1978, dan meraih tiga medali emas Piala Thomas pada tahun 1976, 1979, 1984.
Kita juga ingat Wang Lian-xiang yang memilki nama Indonesia Lucia Francisca Susi Susanti. Ia meraih medali emas bersama Alan Budikusuma di Olimpiade Barcelona 1992. Pada bulan Mei 2004, International Badminton Federation (sekarang Badminton World Federation) memberikan penghargaan Hall Of Fame kepada Susi Susanti. Pemain Indonesia lainnya yang pernah memperoleh penghargaan Hall Of Fame dari IBF yaitu Rudy Hartono Kurniawan, Dick Sudirman, Christian Hadinata, dan Liem Swie King.

Dalam suasana hari kemerdekaan yang ke 67, ada baiknya kita mengenang pribadi-pribadi diatas, anak-anak bangsa yang berasal dari berbagai suku, kelompok etnis dan agama, yang semuanya memberikan yang terbaik kepada bangsa dan negara. Pelajaran, hikmah yang dapat kita petik dari mengenal dan mengenang mereka adalah, bangsa kita adalah bangsa yang terdiri dari banyak suku, banyak agama, banyak ras. Bahwa semua kelompok etnis telah ikut serta dalam merebut kemerdekaan Indonesia. Mereka telah membayar saham yang sangat mahal untuk mendirikan Republik ini dengan darah, keringat dan air mata mereka.

Saya ingat kata-kata salah seorang senior saya, mantan Menteri Agama H. Dr. Tarmizi Tahir, Laksamana Muda TNI-AL. Ia pernah mengatakan, orang Nasrani, orang Hindu, orang Budha, orang Konghucu, bukan indekost di negeri ini. Mereka ikut mendirikan negeri ini.

Dengan suasana inilah hendaknya kita memandang masa depan kita dengan jiwa yang besar, bahwa semua anak bangsa memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk mengabdi, untuk membela negara, bangsa dan rakyat Indonesia. Bangsa yang besar adalah bangsa yang selalu mengenang dan menghormati para pahlawannya. Bangsa yang unggul adalah bangsa yang dapat hidup dalam jiwa kebersamaan, kekeluargaan dan persatuan.

Bersatu kita teguh. Bercerai kita runtuh.

Jakarta, 17 Agustus 2012
Prabowo Subianto
Salam dari cah ndeso,