Tags

, ,


DI BATAS KARIR

Ketika mendaki tangga karir di sebuah organisasi, terkadang kita merasa sudah berada di ambang batas karir. Yang kemudian menjadi pertanyaan apakah kita memang sudah berada di puncak karir (career plateau) dan harus berpuas diri karena disitulah batas kemampuan kita? Ataukah batasan itu hanyalah sekedar langit-langit kaca, yang dapat kita pecahkan agar kita dapat naik lebih tinggi lagi? Camkan dan renungkan!    Pernahkan Anda mendengar cerita tentang gajah dan pawangnya? Seekor gajah yang  dipelihara sejak kecil diikat dengan rantai besi, sehingga dia hanya dapat bergerak di area sebatas panjang rantai. Pada suatu saat ketika rantai itu digantikan oleh tali jerami yang berukuran sedang, tetap saja gajah itu tidak begerak lebih luas. Padahal jika dia mau, dia dapat menarik tali itu hingga putus. Sang Gajah telah terpasung oleh pola pikirnya, dan terikat oleh dogma bahwa tali yang mengikatnya sangat kuat dan dia tidak boleh bergerak leluasa menuju ruang yang lebih luas.

Bagaimanakah jika melihat diri Anda, apakah Anda menderita sindrom seperti yang dialami Sang Gajah? Apakah Anda terbelenggu oleh dogma ”sampai disinilah batas kemampuan saya?” Anda harus meretas belenggu ini, dan ubahlah jalan hidup Anda.

Keberhasilan karir bermuara pada perjuangan dan barangkali sedikit nasib baik. Kita tidak dapat menunggu nasib baik menghampiri kita. Berkata mengenai perasaan ’kontrol atas nasib’ Stevenson merumuskan teori menjadi dua kutub. Kutub pertama disebutnya sebagai promoter. Ini adalah ciri wiraswastawan yang terus mengejar kesempatan, yang tidak peduli apakah modalnya cekak atau berlebih. Sebaliknya ada kutub trustee yang menghitung dahulu ”modalnya’ baru kemudian bertindak sesuai bekal dengan yang dimiliki. Masuk ke dalam tipe manakah Anda?

Terlepas dari tipe yang mana, kita harus memberdayakan diri sedemikian rupa untuk melepas belenggu nasib. Lakukan perubahan pada diri sebagai sarana pemberdayaan diri. Kita harus menyadari kekuatan dan kelemahan diri untuk menumbuh kembangkan keinginan merubah citra diri yang negatif, dan mengembangkan konsep diri yang lebih positif.

Konsep diri, ungkap Maxwell Matz adalah blue print kita dalam bertindak. Dengan memperbaiki cara pandang terhadap diri, keyakinan diri akan tumbuh, dan tindakan akan mengikuti konsep diri yang telah berubah menjadi positif.

Jika Anda mendaki gunung, apakah yang paling Anda perlukan? Bekal makanan, peralatan, atau keterampilan? Tentu semuanya penting, tapi yang paling penting, apa yang menjadi alasan mendaki gunung. Jika alasan mendaki gunung hanya sekedar untuk coba-coba, sedikit saja mengalami rintangan, maka perjalanan tidak akan dilanjutkan. Pendakian pun berlangsung santai, dan tidak ngotot untuk sampai ke puncak dengan cepat.

Lain lagi jika alasan mendaki gunung itu adalah untuk mengukir prestasi. Apakah menjadi orang yang pertama mencapai puncak gunung itu, atau meraih waktu pendakian tercepat. Maka pendakian gunung itu akan dipersiapkan dengan matang, direncanakan dengan penuh semangat. Juga tidak mudah menyerah terhadap tantangan dan rintangan yang ditemui.

Mendaki gunung memang dapat didorong oleh bermacam alasan. Misalnya dilakukan oleh para pengungsi untuk menghindari bencana alam. Para pendaki gunung yang didorong oleh rasa takut dan cemas ini juga mempunyai semangat yang tinggi, Mereka akan mendaki gunung dengan secepat mungkin, dengan energi yang luar biasa besar untuk segera mencapai daerah yang dianggapnya aman. Walaupun tujuannya pertama kali adalah mendaki sampai puncak gunung, ketika mereka sudah menemukan tempat yang dirasakan aman, mereka akan ”berkompromi” dengan tujuan yang ditetapkan semula.

Penyebab seseorang mendaki gunung inilah yang disebut sebagai motif. Pada kisah yang pertama motifnya dalah coba-coba. Tujuannya mendaki gunung. Pada motif yang hanya coba-coba, pendakian tidak dilakukan dengan serius, semangat ala kadarnya, dan segera kembali jika menghadapi rintangan. Atau dengan kata lain motivasinya rendah.

Pada kisah yang kedua, motifnya adalah untuk mengukir prestasi. Walaupun tujuannya sama, yaitu puncak gunung, tapi persiapannya dilakukan dengan matang, pelaksanaannya dilakukan dengan cermat dan penuh semangat, dan tidak menyerah. Dengan kata lain motivasinya tergolong tinggi.

Pada kisah ketiga, motifnya adalah mencari rasa aman. Walaupun tujuannya ke puncak gunung, jika dia menemukan tempat yang aman, dia akan berhenti dan tidak melanjutkan perjalanannya ke puncak gunung. Dengan kata lain motivasinya cukup tinggi untuk mendapatkan rasa aman. Tetapi ketika rasa aman itu sudah didapat, motivasinya tidak tinggi lagi. Mereka adalah para survivor.

Jika motifnya untuk mengukir prestasi, maka kegiatan dilaksanakan secara terencana, semangat tinggi, dan sikap tidak mudah menyerah sampai tujuannya tercapai yang dapat kita sebut sebagai achiever.

Berkaitan dengan pencapaian karir, acap dalam mendaki tangga karir dilandasi oleh beberapa motif sekaligus, tidak hanya motif tunggal. Seseorang terdorong untuk mencapai suatu posisi dilandasi oleh motif mencapai prestasi, memenuhi rasa aman dan penghargaan dari lingkungan. Namun diantara berbagai motif itu, terdapat motif yang paling dominan yang melandasi seseorang dalam mendaki tangga karir.

Nah, motif apakah yang dominan dalam diri Anda ketika mencapai karir? Jika Anda seorang achiever sudah waktunya bagi Anda untuk melintasi batas karir. Anda harus memutuskan bagaimana mendaki karir lebih tinggi. Jika di tempat sekarang tak tersedia, Anda boleh mempertimbangkan tempat lain yang kesempatannya masih terbuka.

Sumber : Jakarta Consulting Group

Dirilis Kembali Oleh :

RKY REFRINAL PATIRADJAWANE

E : refrinal@research-indonesia