Tags

, ,


Priok direlokasi ke Karawang
Pelindo II batalkan kontrak proyek Rp300 miliar di BojonegaraJAKARTA: PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II segera membangun megaproyek

pelabuhan pengumpul (hub port) baru di Karawang, Jawa Barat.
Pelabuhan baru itu berkapasitas 10 juta TEUs kontainer per tahun sebagai pengganti Pelabuhan Tanjung Priok dalam 5 tahun mendatang.
Pada tahap awal, perseroan BUMN itu menyiapkan dana sebesar Rp6 triliun guna membangun sampai mengoperasikan pelabuhan tersebut, yang dijadwalkan terlaksana secara bertahap 5-10 tahun.
Direktur Utama Pelindo II Richard Jose Lino mengatakan rencana itu secara otomatis membatalkan program pengembangan Pelabuhan Bojonegara, Kabupaten Serang, Banten, yang semula diproyeksikan sebagai pelabuhan kontainer pengganti Tanjung Priok.
“Saya akan bangun di Karawang, Jawa Barat. Konsepnya bangun pelabuhan yang besar dengan lahan 10.000 hektare. Pelabuhan itu harus memiliki life time minimal 100 tahun. Itu minimal!” tegasnya kepada Bisnis akhir pekan lalu.
Dia memaparkan pihaknya telah berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk mendukung pembangunan pelabuhan baru, yang menurut rencana, berlokasi di area yang sebelumnya menjadi tempat budi daya udang.
Saat ini, Lino menambahkan, Pelindo II telah melayangkan rancangan nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) kerja sama pembangunan pelabuhan itu dan diharapkan segera diteken bersama.
Pasalnya, pembangunan pelabuhan baru tersebut harus segera dimulai jika tidak ingin melihat kongesti di Priok. “Pembangunan harus dimulai dalam 1 tahun atau 3 tahun ini. Karena di sana [Karawang] harus membebaskan tanah,” katanya.
Dia memastikan pihaknya akan menggabungkan pembiayaan yang bersumber dari internal perusahaan ataupun eksternal untuk membangun dan mengoperasikan pelabuhan pengganti Tanjung Priok itu.
Menurut Lino, pemilihan pelabuhan baru di Karawang mengacu pada kedekatan dengan puluhan kawasan industri di Cikarang, Karawang, Purwakarta, dan Subang di Provinsi Jawa Barat yang memasok barang ke Pelabuhan Tanjung Priok sekitar 70%.
Khusus Pelabuhan Bojonegara, dia menegaskan, pihaknya telah membatalkan sejumlah kontrak yang nilainya mencapai Rp300 miliar untuk pengembangan pelabuhan itu menjadi hub kontainer pengganti Tanjung Priok.
Selanjutnya, papar Lino, Pelabuhan Bojonegara diarahkan menjadi pelabuhan pengumpul barang curah, seperti melayani kapal tanker. “Untuk Bojonegara, kami cari jalan keluar untuk itu. Bisa dialihkan menjadi pelabuhan kilang,” katanya.
Revisi master planWakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono membenarkan pemerintah dan Pelindo II sedang menyiapkan pelabuhan baru di timur Jakarta sebagai pengganti Tanjung Priok.
“Lokasinya di Karawang, tetapi persisnya belum diputuskan,” kata Bambang.
Menurut dia, pelabuhan baru itu dirancang memiliki kemampuan melayani kapal berkapasitas angkut besar hingga 3.000 TEUs dan menampung 10 juta TEUs kontainer per tahun.
Bambang menjelaskan untuk menentukan lokasi pelabuhan itu, pihaknya masih menunggu hasil studi Japan International Corporation Agency (JICA) yang ditargetkan rampung dalam 1,5 bulan ke depan.
“Kami masih open [terbuka], masih menunggu kajian dari dana hibah Jepang. Apakah Cilamaya, Karawang atau Indramayu. Studi itu masih dilihat dari segala sisi,” tegas Wamenhub.
Menurut dia, pembangunan pelabuhan pengganti diperlukan karena dalam 5 tahun ke depan Tanjung Priok tidak akan mampu lagi melayani barang ekspor dan impor.
Bambang menambahkan Kementerian Perhubungan kemungkinan akan merevisi master plan [rencana induk] pengembangan Pelabuhan Priok hingga 2025 setelah lokasi pelabuhan pengganti Tanjung Priok ditetapkan.
Selain itu, paparnya, pihaknya juga akan melihat kedekatan pelabuhan baru itu dengan Pelabuhan Priok, menyusul telah ditetapkannya Tanjung Priok menjadi hub port internasional dalam Tatanan Kepelabuhanan Indonesia.
Relokasi Pelabuhan Priok ke Karawang didukung oleh pelaku usaha di Tanah Air karena akan memangkas biaya pengiriman barang secara signifikan.
Ketua Komite Tetap Perhubungan Laut Kadin Carmelita Hartoto menilai rencana membangun pelabuhan di Karawang sudah tepat karena pemindahan Pelabuhan Priok harus ke lokasi yang lebih besar dan dekat dengan kawasan industri.
“Kami setuju di sana [Karawang] karena mendekati pabrik dan depo. Semua pengumpulan barang ada di sekitar Karawang itu.”
Ketua Umum Dewan Pemakai Jasa Angkutan Laut (Depalindo) Toto Dirgantoro mengatakan organisasinya sudah sejak lama menyuarakan reposisi Pelabuhan Priok ke kawasan yang dekat dengan pusat produksi, karena dapat menghemat biaya logistik.
Menurut dia, reposisi Tanjung Priok bisa menghemat biaya pengiriman dari dan ke pelabuhan hingga 40%, selain akan ada efisiensi waktu.
“Itu [reposisi Priok ke Karawang] merupakan usulan Depalindo sejak 5 tahun lalu, tetapi tidak pernah direspons. Kami sangat mendukung rencana itu karena basis industri ada di timur Jakarta, akan sangat menolong eksportir dan importir,” tegasnya.
(k1/Raydion Subiantoro) (hendra. wibawa@bisnis.co.id/tularji@ bisnis.co.id)

Oleh
Hendra Wibawa & TularjiBisnis Indonesia