Wijanarko's Blog

Change and Don't Stop Learning.

Where can JMP Dunnage Bags be used?


Wijanarko Kertowijoyo:

some new information

Originally posted on Dunnage Air Bag Indonesia Community:

Where can JMP Dunnage Bags be used?

View original

December 9, 2014 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

JMP INDONESIA ENVIRO PLASTIK PALLET


ImageImage

Memperkenalkan Plastik Pallet yang terbuat dari 100% Sampah Plastik dari Bali. Pabrik pallet ini pertama kalinya di Indonesia yang disupport oleh Gubernur Bali Pastika untuk mengurangi sampah-sampah plastik di Bali yang semakin menumpuk dan sangat tidak sedap dipandang disaat turis-turis sedang berjemur, bermain ataupun berenang.

Pabrik pallet ini menggunakan THERMO FUSION pertama kali di DUNIA dan satu-satunya Pabrik di dunia yang menggunakan 100% dari sampah plastik / Landfill.

Berikut adalah spesifikasi:

Ukuran : 1200 x 1000 x 150 mm

Berat : 12 kg

Warna : Hitam

Stackable, nestable, tidak untuk ditaruh di rak, tidak perlu fumigasi dan sertifikat, tidak rusak ditaruh di luar, save space 70%

Perbandingan Nestable dengan Original Pallet

30 Pallet Umum                                                Nestable JMP Indonesia Enviro Pallet

Tinggi : 15 cm x 30 = 450 cm (4,5 meter)         4,5cm x 29 = 130,5 cm + 1 pallet x 15 cm = 130,5 + 15 cm = 145,5 cm

450 cm dibanding 145,5 cm = 67%.

kita bisa menghemat 67%-70% space / 2/3 Space yang ada

 

March 6, 2014 Posted by | Uncategorized | , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

iOS 7 destroying your battery life? Here are 9 battery saving tips


 

Published September 30, 2013

 

iOS 7 draining your battery? Here are 9 ways you can save your phone’s juice.

  • 1Fetch is the new push

    Reuters

    Unless you need constant updates, one way to save battery is by changing your email settings from push to fetch.

    Settings–>Mail, Contacts and Calendar–>Fetch.

  • 2Location, location, location

    FoxNews.com

    In this case, location isn’t everything. Turn off the feature for apps that don’t need access to your location.

    Settings–>Privacy–>Location Services.

  • 3Auto-brightness? Fuhgettaboutit

    FoxNews.com

    Auto-brightness can be a helpful tool in keeping your screen appropriately lit. However, if you’re tight on juice, disable the feature by going to Settings–>Wallpapers & Brightness.

  • 4Disable parallax

    Apple

    When you updated to iOS 7 you may have noticed the icons on your screen appear to shift as you move your phone around. This dizzying feature is called Parallex. Turn it off and save battery life.

    Settings –> General –> Accessibility –> Reduce Motion on.

  • 5Say no to app refreshing

    FoxNews.com

    Not closing the apps you aren’t using on your iPhone is a bad habit you must break for the sake of your battery life. On iOS 7, apps will update while running in the background.

    Turn off this setting by going to Settings–>General–>Background App Refresh.

  • 6Push notification diet

    FoxNews.com

    You don’t really need push notifications from Candy Crush. Turn off uneccessary notifications by going to Settings–>Notification Center and scroll to the Include section. Show no mercy.

  • 7Bye-bye background app updates

    Apple

    Do any of your apps really merit the automatic update setting? Probably not.

    Go to Updates–>iTunes & App Store–>Updates–>Automatic Downloads.

    Just don’t forget to manually update your apps.

  • 8No Airdropping, Wi-Fi searching or unnecessary Bluetooh-connecting

    FoxNews.com

    Turn off Wi-Fi when you know you won’t be connecting or it will drain your battery constantly searching to connect. While you’re at it, shut off  AirDrop and Bluetooth when not using the features.

    Turn them back on by simply swiping the bottom of your screen to access your Control Center.

  • 9Silence Siri

    Apple

    You don’t need to banish Siri for good in order to save battery life. Simply turn off the Raise to Speak feature.

    Settings–>General–>Siri–>Raise to Speak.

October 2, 2013 Posted by | Uncategorized | , , , , , | Leave a comment

Tipe Karyawan Penghancur Bisnismu!


Sumber : Bisnis Indonesia

Anthony Dio Martin

Kamis, 04 Oktober 2012 | 15:05 WIB

 

— Bisanya, cuma ngomong doang dan kadang menjanjikan banyak hal pada customer, tetapi suka berkelit saat mulai ditagih–

Baru-baru ini, seorang CEO multinasional berkata, “Pak Anthony, sekarang ini makin banyak lulusan perguruan tinggi yang keren-keren, CV-nya sih kalau dibaca kelihatannya hebat, tapi kalau sudah diterima, nuntutnya banyak hasilnya tidak seberapa! Atau, ada pengusaha lain yang mengeluh, “Di tempat kami, karyawannya makin bertambah, tapi profit perusahaan bukannya berkali lipat tapi masih sama aja. Ada apa dengan karyawan-karyawan ini?”

Memang. Selayaknya, kalau yang namanya karyawan adalah orang yang bisa mendukung bisnis dan kemajuan organisasi Anda. Namun, namanya juga gerombolan manusia yang berada dalam organisasi, akan ada yang bagus tapi bakalan ada juga yang tidak mampu, bahkan ada yang merusak. Realita menunjukkan, ada lima tipe karyawan yang bisa menjadi penghancur bisnis Anda. Ada beberapa alasan mengapa dikatakan sebagai penghancur bisnis Anda.

Mengapa Disebut Penghancur Bisnis? Pertama-tama, seharusnya yang namanya karyawan, dia memberikan kontribusi dalam bentuk produktivitas (target tercapai, atau kalau bisa justru hasilnya melebihi targetnya), membuat bisnis makin bertumbuh, memberi pelayanan yang semakin baik serta menciptakan proses bisnis makin yang efisien.

Namun, karyawan penghancur bisnis ini sifatnya betul-betul bertolakan dengan apa yang disebutkan ini. Dan ujung-ujungnya, jika dibiarkan untuk jangka panjang, bisnis Andalah yang hancur.

Ini dapat diibaratkan seperti virus yang menjangkiti PC atau laptop Anda. Ada yang langsung membuat laptop Anda rusak, tapi justru yang parah adalah adanya virus yang  perlahan tapi lama-lama komputer Anda jadi ‘crash’ sehingga tidak bisa digunakan sama sekali. Inilah tipe yang berbahaya.

Di sisi lain, kita perhatikan bahwa biaya dan gaji tiap bulannya untuk karyawan tersebut tetap jalan tapi produktivitas yang diberikan bukan membaik, malah sebaliknya. Nah, apa sajakah ke lilma tipe karyawan ini? Mari kita bahas!

 

Inilah lima tipe karyawan penghancur bisnismu.

TERNAK MALAS

Tipe yang pertama, kita sebut tipe si ternak malas. Kalau kita bicara soal ternak, kan ada ternak yang betul-betul produktif tetapi ada yang kerjanya bermalas-malasan menunggu disembelih?

Kalau disebutkan ciri-cirinya, mereka biasanya datang jam 8.30 pulang 5.30 sesuai jam kerja. Mereka minta disuapin dan sekaligus amat penuntut. Ibaratnya mereka akan  diam selama dikasih makan tetapi ketika telat diberi imbalan ataupun dirasa kurang, mereka akan teriak-teriak.

Namun demikian, kontribusinya mereka pada dasarnya sebenarnya sedikit, bahkan hampir nggak ngapa-ngapain setiap hari alias malas. Prinsip mereka adalah  “The company should take care of me”  (perusahaan mestinya menjaga saya). Contohnya seorang karyawan bernama Atisah di bagian Audit.

Tiap hari, dia hanya mengerjakan apa yang rutin dikerjakan, ketika bel bunyi, ya langsung pulang.  Bahkan, kalau tidak ada pengawasan, kerjanya bisa cuma main game dan, baca koran serta tidak ngapa-ngapain. Setiap bulan menunggu gajian, syukur-syukur dikasih tambahan. Itulah sekilas soal si ternak  malas ini.

 

MASA BODOH

Tipe kedua adalah tipe si masa bodoh. Ciri-ciri utama karyawan tipe ini adalah  tidak mau tahu, tidak punyasense of customer service, kerja menurut seleranya dia, tidak mau tahu urusan orang, tidak mau tanggung jawab apalagi kalau ada masalah.

Memang sih, kelihatannya agak sedikit lebih mendingan daripada tipe si ternak malas. Namun, pada dasarnya sebenarnya sama saja, mereka tidak memberikan improvement apapun. Prinsip mereka dalam bekerja adalah “It’s not my business, so why care too much” (ini bukan bisnis saya, kenapa mesti terlalu peduli amat).

Sebagai contohnya kasus Benika yang kerja dibagian engineering. Kebiasaannya adalah mengerjakan tugasnya se-ala kadarnya, rutin. Namun pikirannya adalah kalau sedikit kerja saja sudah cukup kenapa mesti kasih inisitif dan membuat perbaikan? Toh yang kaya adalah bos kita.

Ketika ada customer yang komplain, sikap Benika adalah melempar ke bagian lain atau membiarkan begitu aja, toh menurutnya yang komplain akhirnya akan diam juga.

 

MULUT BESAR

Tipe ketiga berikutnya adalah tipe si mulut besar. Biasanya ciri-cirinya adalah kalau meeting bicaranya paling gede, banyak menjanjikan dan ngomong-nya paling banyak tetapi tidak ada hasilnya. Kadangkala kita lihat proyeknya terlambat atau malahan tidak seperti yang dikatakan, tetapi hobinya mengobral janji sana sini (khususnya dengan customer).

Kenyataannya, banyak dari janjinya yang tidak terpenuhi. Prinsipnya kerjanya, “Talk first, because that what people want to hear” (asal bicara aja dulu, karena itulah yang biasanya orang ingin dengarkan). Misalkan saja, kasusnya Jane. Kebiasaannya, kalau rapat bicaranya paling hebat, suka mencari muka, biar kelihatan hebat di mata bos, tetapi tidak ada yang direalisasikannya. Bisanya, cuma ngomong doang dan kadang menjanjikan banyak hal pada customer, sama bawahannya, tetapi suka berkelit saat mulai ditagih!

 

POLITIKUS

Tipe keempat adalah tipe si politikus. Kebiasaan mereka adalah suka kasak kusuk dan suka mengumpulkan massa. Mereka punya pengaruh tetapi lebih sibuk mengurusi dan membicarakan apa yang tidak beres, serta seringkali jadi provokator.

Kesannya sih mendengarkan aspirasi rakyat tetapi kadang-kadang mereka ‘memancing di air keruh’ dengan menghasut. Prinsipnya ya seperti seorang politikus, “Organization is power struggle, either they win or you win” (organisasi adalah seperti tempat perjuangan kekuasaan, entah kamu yang menang atau dia yang menang).

Misalkan saja, kasus Pak Manan yang seorang  supervisor di pabrik. Pembawaan Pak Manan ini tenang dan anteng tetapi sering bergerilya megumpulkan massa. Biasanya, di depan meeting dia akan tampak baik-baik saja, tetapi apapun yang ada di meeting bisa di ‘bocor’ kannya plus dengan fakta yang seringkali sudah diplintir olehnya.

 

KRIMINAL

Tipe kelima, kita sebut sebagai tipe si kriminal. Ciri-ciri utama mereka adalah suka mencuri dari perusahaan (mengambil apapun yang bisa diambil dari perusahaan, mulai dari ide sampai benda). Atau, melakukan sesuatu yang merugikan ataupun membahayakan organisasi namun meraka tidak punya rasa bersalah sama sekali.

Prinsipnya mereka ini adalah “Take as much as you can, while you can” (ambil sebanyak-banyaknya, mumpung masih bisa). Misalkan saja, kasus Erminto, seorang salesman mesin.  Apa yang dilakukannya? Erminto ini bahkan diam-diam membuat bisnis kompetitor dari perusahaannya, diam-diam bahkan seringkalispart part mesin di perusahan tempatnya bekerja dipreteli olehnya.

 

Mengapa and Apa?

Mengapa dan apa tipnya? Pertanyaan yang sering muncul adalah “Mengapa dan apa yang membuat mereka menjadi karyawan yang seperti itu? Kalau diteliti, ada beberapa alasan umum: pertama, bisa jadi memang sudah jadi karakternya, bisa pula karena adanya rasa sakit  hati akibat suatu pengalaman tertentu atau perlakuan buruk yang pernah diterimanya dulu. Atau, bisa pula akibat sudah terbiasa dari pengalaman dan cara kerja di tempatnya dulu.

Alasan terakhir adalah karena sudah terbiasa dari pengalaman dan cara kerja di masa lalu. Atau bisa jadi karena  memang tidak pernah ditegur, dimonitor dan diberikan inspirasi sama sekali untuk menjadi karyawan yang lebih baik.

 

Langkah-langkah yang musti ditempuh

Lantas, apakah yang mesti dilakukan ketika mempunyai karyawan yang semacam ini? Secara umum, adalah dengan menerapkan kaidah APES yakni Awasi (lihat dan monitor), Petakan (tentukan siap-siapa yang perlu diawasi), Edukasi (kasih pelatihan ataupun bimbingan) dan jika tidak berhasil juga, adalah langkah tegas dengan…. Sembelih! (msb)

October 5, 2012 Posted by | Human Resources Management | , , , , , , | Leave a comment

KEMERDEKAAN INDONESIA DIREBUT OLEH BERMACAM2 SUKU, ETNIS DAN AGAMA. ***BERSATU UNTUK INDONESIA RAYA***


ULASAN PRABOWO SUBIANTO

Sahabat, salah satu cara paling efektif menghadapi isu SARA yang bertujuan untuk memecah persatuan kita, adalah dengan melakukan cara-cara untuk meningkatkan rasa persatuan kita. The best defense is a good offense.
Silahkan sebarkan catatan saya berikut ini menggunakan Facebook, Twitter, email, SMS, dan media lain ke tetangga, teman, dan kerabat.

*** Bersatu untuk Indonesia Raya ***
Baru saja kita merayakan hari kemerdekaan kita yang ke 67. Kemerdekaan bangsa kita direbut melalui suatu perjuangan yang lama, yang berpuncak pada perang kemerdekaan dari 17 Agustus 1945 hingga kedaulatan diserahkan kepada kita pada tahun 1950.
Adalah fakta sejarah, bahwa semua unsur rakyat Indonesia terlibat dalam perjuangan tersebut. Perjuangan kemerdekaan kita adalah perjuangan seluruh rakyat Indonesia. Pejuang-pejuang berikut ini saya ambil sebagai contoh bahwa anak bangsa Indonesia dari berbagai suku, berbagai daerah, berbagai ras dan berbagai agama telah memberikan pengorbanan tertinggi, yaitu jiwa dan raga mereka kepada bangsa dan negara Indonesia, untuk Indonesia merdeka.

Letkol I Gusti Ngurah Rai

Setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, atas inisiatif sendiri I Gusti Ngurah Rai datang ke Jakarta untuk menghadap Panglima Besar Jendral Sudirman dan meminta mandat untuk membentuk pasukan TRI (Tentara Republik Indonesia) di daerah Bali dan Nusa Tenggara, daerah yang pada saat itu disebut Sunda Kecil. Ia kemudian kembali, merekrut pasukan dan mulai melakukan serangan-serangan terhadap pos-pos Belanda di Bali.
Menjelang September 1946, Belanda melakukan offensive yang pada tanggal 19 November 1946 berhasil mendekati posisi pasukan yang dipimpin oleh I Gusti Ngurah Rai sendiri. Pada saat itu, Letkol I Gusti Ngurah Rai menjabat Komandan Resimen TRI Sunda Kecil (setingkat Pangdam pada saat ini).
Setelah berhasil mengepung pasukan Ngurah Rai di Desa Margarana, Belanda sempat mengirim utusan untuk meminta Letkol I Gusti Ngurah Rai menyerah dengan pasukannya. Apabila ia menyerah, ia dan pasukannya akan dibiarkan hidup. Namun ultimatum Belanda dijawab oleh I Gusti Ngurah Rai dengan teriakan “puputan” yang berarti “bertempur sampai titik darah penghabisan.
Pertempuran terjadi sejak pagi dengan sangat hebat, dan baru berakhir pada sore harinya. Pasukan TRI gugur semua, termasuk Komandan Resimen TRI Sunda Kecil I Gusti Ngurah Rai bersama kepala staff beliau, Mayor I Gusti Putu Wisnu.
Sikap dan tindakan Letkol I Gusti Ngurah Rai membuktikan patriotisme mereka tidak hanya mereka kumandangkan di mulut tetapi mereka buktikan dengan darah mereka yang telah membasahi bumi pertiwi. Letkol I Gusti Ngurah Rai kebetulan beragama Hindu.

Robert Wolter Monginsidi


Pada tanggal 17 Juli 1946, Robert Wolter Monginsidi yang lahir di Manado, Sulawesi Utara, membentuk suatu pasukan geriiya yang dinamakan Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS). Pasukan ini terus menerus melakukan perang gerilya terhadap Belanda di Sulawesi Selatan. Mereka menyerang asrama Belanda, menghadang konvoi-konvoi Belanda, dan melakukan penghadangan-penghadangan terhadap patrol-patroli Belanda.
Dalam suatu operasi besar-besaran pada tabggal 28 Februari 1947, Belanda berhasil menangkap Monginsidi. Pada 27 Oktober 1947 ia berhasil meloloskan diri dan mulai menyerang kembali pos-pos Belanda. Namun, tidak lama kemudian Monginsidi tertangkap kembali untuk kedua kalinya. Ia diadili oleh Belanda, dan dalam proses pengadilan ditawarkan: kalau ia menyatakan berhenti mendukung Republik Indonesia, ia akan mendapatkan hukuman yang ringan. Namun apabila ia terus setia kepada Republik Indonesia, ia akan dijatuhkan hukuman mati.
Ia jawab kepada hakim, “Hukum matilah saya, jika tidak kamu nanti yang saya bunuh pertama kali”. Surat keputusan pengadilan langsung ditandatangani oleh Monginsidi. Pada saat pelaksanaan hukuman mati, Belanda bertanya kepadanya apakah ada kata-kata terakhir. Monginsidi meminta ijin untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya. Kemudian ia mengatakan kepada regu tembak, laksanakan kewajiban kalian, tembaklah dengan tepat sasaran.
Robert Wolter Monginsidi gugur pada usia 24 tahun. Beliau telah memberikan jiwa dan raganya untuk Indonesia merdeka. Ketika hendak dimakamkan, ditemukan kitab suci Nasrani milik Mongindisi. Di dalam kitab tersebut, ditemukan secarik kertas dalam tulisan tangan, Setia sampai akhir dalam keyakinan. Sebelum dihukum mati, ia sempat mengirimkan beberapa surat, salah satunya kepada kekasihnya yang bernama Nina. Di dalam surat tersebut ia mengatakan, Semua air mata yang sudah dicurahkan, akan menjadi suatu fondasi yang kukuh kepada tanah kita yang kita cintai, yaitu Republik Indonesia‚ (7 Juni 1949).
Kemudian dalam surat kepada adiknya Marie, Monginsidi menulis: Jangan takut melihat massa yang akan datang. Saya telah turut membersihkan jalanan bagi kalian walaupun belum semua kekuatanku aku gunakan. Ada lagi surat Monginsidi kepada adiknya Opie, dimana ia menuliskan: Apa yang saya bisa tinggalkan hanya roh ku saja, roh yang setia sampai akhir kepada tanah air, menuju kepada cita-cita kebangsaan.

 

Ignatius Slamet Riyadi

Dalam usia yang sangat muda, belasan tahun, Ignatius Slamet Riyadi berhasil membentuk suatu pasukan gerilya untuk mendukung proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Ia menghimpun para pemuda ex PETA, Heiho dan Kaigun untuk menyerang pasukan Jepang di kota Solo.
Dalam pertempuran-pertempuran, Slamet Riyadi selalu berada di depan pasukannya. Slamet Riyadi dengan pasukannya menjadi terkenal, bahkan legendaris, karena berhasil mengimbangi kekuatan pasukan Belanda. Slamet Riyadi membuktikan bahwa TNI dan Republik Indonesia mampu menyerang pusat kekuatan Belanda, antara lain kota Solo, yang pada waktu itu dipertahankan dengan persenjataan berat-artileri, pasukan infantri dan komando yang tangguh. Slamet Riyadi yang memiliki pangkat Letnan Kolonel, adalah prajurit yang menerima otoritas kota Solo dari pihak Belanda.
Slamet Riyadi melanjutkan karir di TNI sampai dengan saat penumpasan pemberontakan RMS di Ambon, ia ditunjuk sebagai pimpinan operasi dengan pangkat Kolonel. Ia berhasil memimpin perebutan kota Ambon kembali dari tangan pemberontak. Tetapi, dalam pertempuran dekat Benteng Victoria, ia terkena tembak saat memimpin anak buahnya di garis paling depan.
Kolonel Ignatius Slamet Riyadi kita kenal juga sebagai penggagas pembentukan pasukan khusus TNI yang sekarang kita kenal dengan nama Kopassus. Kebetulan ia seorang dari suku Jawa yang menganut agama Katolik.

Daan Mogot

Daan Mogot adalah seorang perwira TRI yang tergolong sangat cemerlang kariernya. Ia menjadi Mayor pada usia 16 tahun setelah mengikuti pendidikan PETA pada usia 14 tahun.
Karena kegigihan dan keberhasilannya memimpin pasukan, ia menjadi direktur Akademi Militer Tangerang yang diberi tugas untuk mendidik calon-calon perwira Indonesia untuk ikut serta dalam perang merebut kemerdekaan.
Pada tanggal 25 Januari 1946, Mayor Daan Mogot dengan beberapa perwira dan pasukan tarunanya terlibat dalam pertempuran Lengkong di Tangerang dalam usaha merebut senjata untuk TRI. Dalam pertempuran tersebut, ia gugur bersama 36 perwira dan taruna. Diantaranya yang gugur adalah dua orang paman saya Letnan Satu Subianto Djojohadikusumo, dan Kadet Suyono Djojohadikusumo. Sujono pada saat itu usianya baru 16 tahun.

Laksamana Muda John Lie

Laksamana Muda John Lie alias Jahja Daniel Dharma adalah seorang perwira Angkatan Laut Indonesia yang berasal dari etnis Tionghoa. Ia lahir di Manado, Sulawesi Utara pada tanggal 19 Maret 1911 dari ayah bernama Lie Kae Tae dan ibu bernama Oei Tjeng Nie Nio.
Selama perang kemerdekaan, ia bertugas dengan sangat cemerlang, menerobos blokade maritim Belanda untuk menyelundupkan senjata dari Singapura dan Malaya untuk pasukan-pasukan TNI di Jawa. Ia meneruskan kariernya setelah perang kemerdekaan, dan terlibat dalam berbagai operasi untuk membela negara dan bangsa di berbagai wilayah Republik Indonesia.
John Lie meninggal dengan pangkat Laksamana Muda TNI pada tanggal 27 Agustus 1988. Atas jasa dan pengabdiannya, ia dianugerahi Bintang Mahaputera Utama oleh Presiden Soeharto pada 10 Nopember 1995, dan Bintang Mahaputera Adipradana dan gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 9 November 2009.

 

Ini adalah contoh beberapa anak-anak Indonesia yang kebetulan berasal dari golongan minoritas. Ada yang beragama Hindu, ada yang Katolik, ada yang Protestan, ada yang keturunan etnis Tionghoa.
Tentunya, ada banyak anak bangsa yang beragama Islam, yang terlibat dalam merebut kemerdekaan Indonesia. Misalkan, kita mengenal kepahlawanan Jendral Sudirman yang dalam keadaan sakit memilih memimpin pasukan gerilya di gunung. Jendral Sudirman adalah suatu contoh keteladanan yang tidak ada taranya dalam sejarah Republik kita. Kita bisa bayangkan, teladan apa yang dapat diwariskan pada generasi penerus manakala pada saat itu Panglima Besar TNI yang pertama, tertangkap hidup oleh musuh. Beliau sadar bahwa dengan bergerilya dalam keadaan sakit paru-paru, kemungkinan beliau selamat sangat kecil.
Tentunya siapa diantara kita yang tidak kenal Soekarno, Mohammad Hatta, Ki Hajar Dewantara, Ki Bagus Hadi Kusumo, Wahid Hasyim dan yang lain. Mereka sudah sangat dikenal.

Dari cuplikan kisah-kisah diatas, saya ingin memberikan gambaran bahwa kemerdekaan kita direbut oleh seluruh rakyat, dari semua suku bangsa, kelompok etnis dan agama.

Dalam perjalanan masa tugas saya sendiri sebagai perwira TNI, banyak prajurit yang gugur dibawah komando saya. Diantaranya saya ingat Sersan Dua Stefanus yang gugur di daerah dekat Sungai Kraras, Timor Timur pada tahun 1984 waktu menyerang kedudukan musuh. Sersan Stefanus meninggalkan seorang ibu dan seorang istri, serta seorang bayi kecil.

Saya juga ingat Letnan Dua Infanteri Siprianus Gebo, perwira lulusan Akabri tahun 1988 yang berasal dari Ende, Nusa Tenggara Timur. Siprianus Gebo gugur pada saat ia menyerbu suatu kamp gerilya di lereng Gunung Bilo, Vikeke, Timor Timur. Siprianus Gebo adalah seorang perwira teladan, seorang yang riang gembira yang sangat berprestasi, dari keluarga yang sederhana. Ia gugur saat masih bujangan. Ia telah memberi jiwa dan raganya untuk bangsa dan negara. Oleh negara ia diberi bintang tertinggi untuk keberanian, yaitu Bintang Sakti, dan dinaikkan pangkatnya satu tingkat.

Saya sempat datang ke rumah keluarga Siprianus Gebo, dan menjumpai ibunya setelah sekian tahun pada tahun 2009. Ibunya hidup dalam keadaan sangat sederhana. Putra kesayangannya, harapan hidupnya, telah tiada – tetapi ibunya tetap tabah walau harus hidup dalam keprihatinan.

Saya juga ingat dua sukarelawan Timor Timur yang berjuang dan bertempur bersama saya di tahun 1978. Keduanya adalah keturunan etnis Tionghoa. Yang satu dikenal dengan nama Domingus “Cina” dari Ossue, yang satu bernama Roberto Lie Lin Kai, adik dari seorang tokoh Tionghoa dari Vikeke bernama Fransisko Ciko Lie. Dua sukarelawan tersebut bertempur bersama pasukan TNI tanpa pangkat, tanpa jabatan dan tanpa ikatan dinas di hutan dan di gunung Timor Timur untuk Indonesia. Mereka menjadi pengawal setia saya. Saya sedih karena tidak tahu apa yang terjadi kepada mereka. Adalah pekerjaan rumah saya untuk terus mencari bagaimana nasib mereka sekarang.

Sukarelawan lain yang kebetulan beragama Nasrani (Kristen Katolik), yang gugur untuk Indonesia: Jose Fernandes, komandan kompi Partisan, gugur di Vikeke tanggal 17 Agustus 1983; Joaquin Monteiro, komandan kompi Partisan “Makikit”, gugur di Ossu bulan Februari 1986; Gilberto Gutteres, wakil dari Joaquin, gugur di Baucan tahun 1989; Juliao Fraga, komandan kompi SAKA, gugur 24 Oktober 1996 di Bancau. Kebetulan saya kenal dekat dengan mereka. Mereka pribadi-pribadi yang berani, tulus dan sangat setia kepada Merah Putih. Mereka tidak memiliki jabatan, pangkat dan gaji yang tetap. Mereka sungguh patriot sejati.

Selain kisah-kisah mereka yang angkat senjata untuk Republik Indonesia, ada juga pahlawan-pahlawan yang mengharumkan nama bangsa Indonesia di bidang lain. Salah satu yang paling menonjol diantaranya adalah Tan Joe Hok, orang Indonesia pertama yang menjuarai All England dan meraih medali emas Asian Games. Pada saat itu bulutangkis belum masuk olimpiade.
Kita juga kenal Rudi Hartono, yang nama Tionghoanya adalah Nio Hap Liang. Ia mengharumkan nama Indonesia selama delapan kali memenangkan kejuaraan All England. Liem Swie King juga lima kali menjadi juara All England, meraih medali emas Asian Games di Bangkok 1978, dan meraih tiga medali emas Piala Thomas pada tahun 1976, 1979, 1984.
Kita juga ingat Wang Lian-xiang yang memilki nama Indonesia Lucia Francisca Susi Susanti. Ia meraih medali emas bersama Alan Budikusuma di Olimpiade Barcelona 1992. Pada bulan Mei 2004, International Badminton Federation (sekarang Badminton World Federation) memberikan penghargaan Hall Of Fame kepada Susi Susanti. Pemain Indonesia lainnya yang pernah memperoleh penghargaan Hall Of Fame dari IBF yaitu Rudy Hartono Kurniawan, Dick Sudirman, Christian Hadinata, dan Liem Swie King.

Dalam suasana hari kemerdekaan yang ke 67, ada baiknya kita mengenang pribadi-pribadi diatas, anak-anak bangsa yang berasal dari berbagai suku, kelompok etnis dan agama, yang semuanya memberikan yang terbaik kepada bangsa dan negara. Pelajaran, hikmah yang dapat kita petik dari mengenal dan mengenang mereka adalah, bangsa kita adalah bangsa yang terdiri dari banyak suku, banyak agama, banyak ras. Bahwa semua kelompok etnis telah ikut serta dalam merebut kemerdekaan Indonesia. Mereka telah membayar saham yang sangat mahal untuk mendirikan Republik ini dengan darah, keringat dan air mata mereka.

Saya ingat kata-kata salah seorang senior saya, mantan Menteri Agama H. Dr. Tarmizi Tahir, Laksamana Muda TNI-AL. Ia pernah mengatakan, orang Nasrani, orang Hindu, orang Budha, orang Konghucu, bukan indekost di negeri ini. Mereka ikut mendirikan negeri ini.

Dengan suasana inilah hendaknya kita memandang masa depan kita dengan jiwa yang besar, bahwa semua anak bangsa memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk mengabdi, untuk membela negara, bangsa dan rakyat Indonesia. Bangsa yang besar adalah bangsa yang selalu mengenang dan menghormati para pahlawannya. Bangsa yang unggul adalah bangsa yang dapat hidup dalam jiwa kebersamaan, kekeluargaan dan persatuan.

Bersatu kita teguh. Bercerai kita runtuh.

Jakarta, 17 Agustus 2012
Prabowo Subianto
Salam dari cah ndeso,

August 27, 2012 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

Biography Sudirman MR, Presdir PT Astra Daihatsu Motor


Disadur dari SWA.CO.ID 

by Denoan Rinaldi

 

Ia adalah satu-satunya dan pertama kali orang luar Jepang yang bisa menduduki posisi direkti Daihatsu Motor (DMC). Tentu, kesempatan tersebut diberikan bukan semata melihat perusahaan yang kini dikomandani Sudirman MR, PT Astra Daihatsu Motor (ADM), punya posisi penting bagi DMC, tapi dia telah membuktikan kemampuannya selama menjalani karier di Grup Astra hingga bisa mencapai posisi puncak seperti sekarang.

Namun, asal tahu saja, ia masuk ke Grup Astra dengan berbekal ijazah STM. Lalu, di tengah-tengah kesibukan kerjanya, ia sempatkan mengikuti kuliah di Universitas Terbuka hingga meraih gelar sarjana jurusan administrasi niaga. Toh, di luar itu, Sudirman menempa dirinya dengan banyak belajar, belajar, dan terus belajar.

Berikut ini, perbincangan antara wartawan SWA Yuyun Manopol dan Denoan Rinaldi dengan Sudirman, yang kini juga menjabat Direktur PT Astra International Tbk.

Bagaimana awal berkarier di Astra?

Awalnya saya bergabung dengan Grup Astra pada Nopember 1978 sebagai staf di bagian produksi. Saat itu saya masuk ke PT Daihatsu Indonesia yang merupakan bagian dari Astra. Daihatsu Indonesia merupakan perusahaan joint venture pertama antara Astra Internatioal (AI) dengan Daihatsu Motor Company (DMC) dan Nichimen Corporation. Saat itu, dibangun pabrik Daihatsu di Indonesia untuk membuat body mobil. Ketika saya masuk ke PT Daihatsu Indonesia, saya adalah karyawan kelima. Namun, yang buat saya kaget adalah, dari sekitar ratusan pelamar, yang diterima hanya 2 orang setelah melalui beberapa tahapan tes. Salah satunya adalah saya.

Saat saya masuk ke Astra, banyak teman dan saudara yang mempertanyakan keputusan saya untuk bergabung dengan Astra karena posisi saya di tempat kerja sebelumnya sudah lumayan bagus, yaitu sebagai chief planningdi Alumunium Work Indonesia, yaitu perusahaan joint venture antara perusahaan Indonesia dan Jepang yang bergerak di bidang pembuatan plat alumunium. Ketika bekerja di perusahan tersebut, saya ditempatkan di bagian perencanaan. Lumayanlah, saat itu saya mendapat beberapa fasilitas, seperti kendaraan dan lain sebagainya. Masuk ke Astra ini, saya mulai dari nol. Namun, bagi saya tidak apa-apa sama sekali. Jadi saya berangkat naik sepeda motor saat ke pabrik baru yang masih belum ada apa-apanya sama sekali, kecuali 5 orang tadi yang saya sebutkan. Malah lucu, setelah diwawancara beberapa kali, saya minta gaji minimal dengan gaji saya di perusahaan sebelumnya., tanpa kompensasi atau bonus tidak apa-apa karena waktu itu Daihatsu Indonesia masih baru.

Apa pertimbangan Anda bergabung dengan Grup Astra?

Saya lihat nama Astra dan bidang otomotif yang saya yakin ke depan akan tumbuh. Selain itu Astra, terkenal sebagai perusahaan nasional yang besar, sehingga saat itu Astra merupakan ladang yang subur. Saya ingin jadi bibit yang baik, sehingga bisa tumbuh bersama perusahaan. Saya memiliki keyakinan sejak awal bahwa kami kita bisa tumbuh sama-sama. Dengan bekal keyakinan itu saya pindah ke Astra, walaupun teman dan saudara saya mempertanyakan keputusan saya.

Di tempat kerja sebelumnya saya pakai supir, maka di Astra saya pakai vespa ke kantor. Namun setelah tiga bulan pakai vespa ke kantor, saya jual vespa itu untuk menyewa rumah kontrakan dekat kantor. Karena saya bertanggung jawab terhadap pemasangan mesin dan lainnya, maka saya kerap kerja hingga pukul 1 atau 2 pagi dan harus ke kantor lagi pukul 05.30 pagi karena jadwal kerja yang padat. Itu saya lakukan dengan kesadaran saya sendiri, tidak ada yang memerintah. Saat itu saya bertanggung jawab terhadap perencanaan kerja dan implementasinya.Setelah vespa dijual, saya naik omprengan ke kantor, berangkat pukul 04.30 pagi.

Setelah Daihatsu Indoneesia merekrut banyak karyawan, saya ditempatkan di bagian perencanaan dan produksi. Namun, saya juga pernah turun tangan untuk memperbaiki mesin yang rusak. Pada 1980, ketika pabrik baru mulai produksi banyak, ternyata mesin yang baru dipasang rusak. Sementara, teknisi dari Jepang sudah pulang. Saat itu di perusahaan ada 3 orang Jepang, tapi mereka tidak menguasai permesinan. Akhirnya saya bongkar mesin itu dengan hanya berdasar panduan buku manual. Saat itu saya bekerja 30 jam non-stop di atas mesin. Makan pun di atas mesin sambil memperbaikinya. Saya coba perbaiki mesin itu sejak pagi hingga keesokan harinya pukul 11.00. Setelah mesin bisa beroperasi lagi, saya beri penjelasan ke yang lain dan pukul 14.00 saya pamit pulang. Baru rebahan di rumah kontrakan, supir direksi saya, Pak Siswoyo, datang ke rumah. Saya diminta untuk datang ke pabrik lagi karena mesin rusak lagi. Akhirnya saya ikut lagi ke pabrik naik mobil direksi saya, Toyota Crown, bersama supir itu. Direktur saya orang Jepang, namanya Mr. Ichomoto. Setibanya di kantor, saya betulkan lagi hingga selesai semuanya pukul 20.00. Saya setel lagi dan tunggu hingga setengah jam, dan tidak ada masalah. Saya kemudian pulang. Berdasarkan pengalaman itu, akhirnya perusahaan mengirim orang ke Jepang untuk belajar maintenance mesin. Sebelum itu, kami tidak memilki orang maintenance. Itu salah satu hikmahnya. Saya tipe orang yang goal oriented. Saya mengerti tentang objective perusahaan. Kalau mesin itu tidak selesai, kami tidak bisa mengirim barang ke PT Gaya Motor. Tanggung jawabnya besar. Maka saya katakan pada saat itu bahwa mesin itu harus bisa beroperasi kembali.

Pengalaman itu sangat berkesan ya,Pak?

Sangat berkesan. Punya kepuasan tersendiri. Akhirnya dari sana kami tahu lagi bahwa ternyata buku manual mesin itu masih kurang. Akhirnya kami lengkapi manual itu.

Lalu bagaimana perjalanan karieAnda berikutnya?

Setelah itu saya berkiprah di bagian perencanaan. Bagian perencanaan selalu harus melihat ke depan yang sesuai dengan pola pikir saya dari dulu. Saya pernah training diJepang pada 1974-1975. Ceritanya begini. Setelah lulus STM 1 Tasikmalaya, saya berencana ke Jakarta untuk kuliah. Namun, karena kebetulan ada perusahaanjoint venture, PT Balikpapan Forest Industry, memerlukan tenaga lulusan sekolah menengah atas untuk dilatih diJepang guna belajar bagaimana membuat kayu lapis, saya melamar pekerjaan ke perusahaan ini. Kebetulan sayaditerima di perusahaan itu dan akhirnya saya tidak jadi kuliah untuk ikut training ke Jepang selama 1,5 tahun. Di Jepang saya diberikantechnical training, termasuk belajar manajemen produksi, bagaimana manajemen gaya Jepang. Saat itu saya mendalami mengenai perencanaan. Maka, ketika saya telah bergabung dengan Daihatsu, saya ditempatkan di bagian production, planning, and control (PPC). Saya bekerja mulai dari perencanaan produksi, perencanaan pembelian bahan, hingga mengontrol pengiriman barang jadi. Jadi, dari hulu ke hilir.Keuntungannya berada di PPC, yaitu keterkaitan hubungan antara orang di bagian produksi, engineering,maintenance, keuangan, personalia, hingga top management.

Dari pengalaman training di Jepang, apa yang Anda petik untuk dipraktikkan di Daihatsu?

Ketika saya pulang ke Indonesia, saya kan bekerja di perusahaan alumunium, yakni PT Aluminium Work Indonesia itu. Di perusahaan ini, paling tidak saya berinteraksi dengan orang Jepang sehingga saya bisa mengerti bagaimana pola pikir dan cara kerja orang Jepang. Jadi begitu masuk ke Daihatsu, dasar pengetahuan mengenai cara kerja, pola pikir, dan manajemen orang Jepang sudah saya mengerti. Itu yang saya aplikasikan ketika saya bekerja di Daihatsu. Namun, mengenai teknis detil mengenai otomotif, saya belajar dari orang-orang Daihatsu Jepang.

Dari cara kerja orang Jepang, apa yang membuat bapak paling terkesan?

Disiplin dan teratur. Aturan mainnya jelas dan dijalankan dengan baik. Setelah itu, mereka membawa pola pikir Kaizen, continous improvement. Sejak kecil, prinsip berpikir ini dijalankan oleh orang Jepang. Hal ini didukung oleh kerja mereka yang disiplin. Hal pertama yang saya pelajari dari Jepang adalah budaya antre. Sejak kecil budaya ini sudah diajarkan. Juga, dalam hal disiplin kerja, saya dapatkan dari Jepang sehingga hal ini sudah menjadi kebiasaan saya. Kebetulan saya juga sejak kecil ikut kepanduan atau Pramuka. Di Pramuka dipelajari mengenai kedisiplinan, toleransi, tolong menolong. Itu yang menggembleng saya sejak SD. Saya suka itu. Hingga saat ini, walaupun saya sudah berada di posisi puncak ADM (PT Astra Daihatsu Motor), bagi saya disiplin nomor satu.

Mengapa Anda hanya sekolah hingga STM saja?

Seperti tadi yang saya jelaskan, sebenarnya saya mau kuliah di Jakarta setelah lulus STM.

Bukan karena kendala keuangan?

Bukan. Saya waktu itu juga mau dibantu “omsaya” untuk kuliah. Namun, soal pilihan mengapa saya masuk STM setelah lulus SMPN 1 di Tasikmalaya, paman saya waktu itu memberi tahu saya bahwa dengan masuk STM, jika suatu hari tidak mampu melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi, maka lebih mudah untuk bekerja. Saat itu saya disarankan untuk masuk STM oleh paman saya. Saat itu saya masuk STM Negeri 1 Tasikmalaya, ambil jurusan mesin.

Sudah ada keinginan atau tujuan perguruan tinggi setelah lulus STM?

Saya ingin kuliah di jurusan teknik karena sebelumnya juga sudah belajar teknik. Selain itu, sejak kecil ayah saya memiliki perusahaan angkutan. Ayah saya punya banyak truk. Saat itu, saya sudah rajin. Selepas pulang sekolah (SD) saya ikut supir dan kernet untuk bongkar-bongkar mobil. Jadi saya tahu komponen mobil dan lainnya. Ini juga yang membuat saya akhirnya memilih masuk STM daripada SMA.

Perasaan Anda saat itu bagaimana?

Senang saja. Saya nikmati. Saya juga ingin membuktikan, bahwa saya akhirnya bisa sukses. Sejak kelas 1 SD, saya adalah ketua murid (ketua kelas) hingga di STM.

Apakah ada kendala ketika bapak masuk ke Astra yang hanya lulusan STM dibanding pegawai lainnya dengan title sarjana?

Tidak. Karena saya punya keyakinan, Pak William Soeryadjaya yang melakukan transformasi Astra dari perusahaan keluarga menjadi perusahaan profesional, merekrut orang-orang yang terbaik. Saat itu, ketika saya masuk, saya hanya staf produksi. Lalu 1982, saya menjadi kepala seksi. Atasan saya waktu itu, yang menjadi manajer, berasal dari universitas terkemuka, kalau tidak ITB (Institut Teknologi Bandung), ya UI (Universitas Indonesia). Itu memang standar Astra. Namun Astra. juga selalu membangun dan mengembangkan yang namanya Astra Manajemen System (AMS), yang awalnya bernama Astra Total Quality Control (ATQC). Perubahan itu dilakukan pada 2000-an. Waktu membangun sistem itu, saya mengikuti dan memperhatikan bahwa yang menjadi manajer lulusan dari universitas terkenal semua. Hal itu memotivasi saya untuk selalu belajarskill yang dimiliki atasan saya. Saya melihat dan mempelajari skill apa yang harus dimiliki untuk menjadi seorang manajer. Karena itu, saya belajar mempersiapkan diri. Saya belajar otodidak melalui toko buku. Gramedia dan Gunung Agung tempat saya baca buku pada waktu itu. Kalau belum punya uang, saya baca dulu saja buku tersebut. Kalau sudah punya uang, baru dibeli. Untuk buku manajemen, LPM UI sering mengeluarkan buku seri manajemen. Saya belajar dari buku-buku itu.

Namun, waktu saya mempersiapkan diri tersebut, tidak dengan ambisi bahwa saya harus mencapai posisitersebut karena saya meyakini bahwa posisi itu ditentukan oleh adanya kebutuhan perusahaan, adanya lowongan, sehingga yang menentukan adalah atasan. Hanya saja, saya selalu percaya bahwa jalan hidup seseorang ditentukan oleh Allah Yang Maha Kuasa, sehingga saya selalu terus berikhtiar dengan cara belajar di mana ada kesempatan. Mudah-mudahan saya adalah salah satu kandidat yang menjadi pertimbangan pimpinan.

Lalu, apa yang memotivasi Anda melakukan hal itu?

Saya ingin selalu menambah pengetahuan. Dengan latar belakang pendidikan hanya lulusan STM, saya juga ingin kuliah. Namun, karena kesibukan saya yang padat, pukul 16.30 sudah di pabrik dan pulang kantor paling cepat pukul 20.00, sehingga saya sulit untuk kuliah lagi. Selain itu, saya juga ingin pekerjaan yang saya lakukan selesai dengan sempurna. Kalau bisa pekerjaan bisa dilakukan dalam waktu satu hari, atau mengikuti deadline tiga hari. Itu yang membuat saya sulit untuk kuliah lagi. Maka, ketika 1984, Pemerintah membangun Universitas Terbuka, saya ikut kuliah di universitas ini. Banyak teman-teman dari Astra yang mengikuti UT. Rata-rata yang ikut UT adalah mereka yang lulusan akademi. Mereka berbondong-bondong mengikuti kuliah di universitas ini, termasuk beberapa sekretaris direksi Astra. Namun setelah tiga semester, tinggal sedikit teman Astra yang masih bertahan di UT karena dulu orang menganggap mudah masuk UT, ujiannya pun pilihan ganda. Jadi, tinggal pilih berdasarkan kancing baju saja, padahal tidak begitu. Kalau tidak dipelajari dengan sungguh-sungguh, sulit. Kita mau contek siapa? Maka dari itu, harus berdasarkan kemampuan sendiri. Saya jalani terus. Kan yang mempersiapkan bahannya orang-orang dari UI, Unpad, UGM. Saya ambil Jurusan Adimistrasi Niaga karena terkait dengan bisnis. Saya lulusan angkatan pertama tahun 1989. Jadi S1 saya adalah jurusan admistrasi niaga UT. Saya selesaikan dalam waktu lima tahun. Sebenarnya saya ingin menyelesaikan dalam waktu empat tahun, namun ada kalanya modul mata kuliahnya belum siap. Jadi saya hanya mengambil sedikit SKS (satuan kredit semester) pada semester tertentu. Itu hanya masalah ketekunan. Jika tekun, kuliahpun bisa dilalui dengan waktu singkat.

Dengan ketekunan juga pada 1984 saya diangkat menjadi asisten manajer. Grup Astra, dengan manajemen yangterbuka, sering diadakan sharing antar perusahaan untuk saling berbagi yang dikoordinir oleh Astra International. Misalnya, bagaimana kinerja perusahaan A di bidang manufacturing, apa yang sudah dilakukan, bagaimana hasilnya. Sehingga, dengan sharing itu,bisa saling mengisi. Saat itu, ada kesempatan bagi saya untuk mengikuti ajang sharing ini. Jabatan saya ketika itu masih kepala seksi. Saya bicara kepada atasan saya mengenai ajang ini, dan atasan saya mengatakan bahwa kami harus berpikir untuk ikut ajang itu atau tidak karena kinerja perusahaan yang bagus mensyaratkan presentasi yang bagus juga. Kalau presentasi tidak bagus akan jadi negatif. Saya menyarankan pada atasan saya untuk mengikuti ajang itu. Saya bicara ke direktur Daihatsu Indonesia. Dia setuju untuk mengukuti ajang itu. Namun, dia bingung mengenai siapa yang mempersiapkan materi presentasinya. Saya mengajukan diri untuk mempersiapkan materinya. Ia meminta saya menyelesaikannya dalam waktu satu minggu. Ia bicara itu ketika makan siang. Sebenarnya saya sudah tahu mengenai hal yang aka dipresentasikan. Saya punya data dan hasil di bagian PPC. Saya kerjakan malam itu hingga pukul 12.00 malam. Keesokan harinya, setelah keliling pabrik dan pekerjaan beres,saat makan siang saya bertemu dengan direkturitu lagi dan menanyakan waktu saya perlukan untuk membuat presentasi. Dan, saya katakan, saya bisa menyelesaikan materi presentasi tadi hanya semalam dari waktu yang diberikan seminggu. Akhirnya setelah rapat direksi, saya dipanggil untuk presentasi. Kaget semua. “Ini bagus kalau kayak begini,” kata para direktur. Para direktur menanyakan siapa yang akan memprsentasikan materi ini. Para direktur dan GM pun menyatakan tidak sanggup untuk mempresentasikan materi ini.

Akhirnya saya yang maju presentasi dalam ajang itu. Namun, ternyata dari perusahaan lain di Grup Astra, rata-rata yang presentasi adalah direktur, bahkan ada presiden direktur. Ada 5 perusahaan yang ikut serta. Hanya saya yang jabatannya kepala seksi. Saya diberi kepercayaan oleh pimpinan saya untuk mengikuti ajang ini.Maka, presentasilah saya di depan VP Astra dan direktur perusahaan lain di Grup Astra. Setelah presentasi, Pak Teddy Rachmat mengatakan, “Yang saya mau sebenarnya seperti ini, yang seperti Sudirman presentasi. Ini bagus presentasinya.” Dari sana Pak Teddy mengetahui saya. Alhamdulillah, tidak lama setelah itu saya diangkat menjadi Asisten ManajerManufacturing DepartmentDaihatsu Indonesia pada 1985. Setelah itu, pada 1989, sayadiangkat menjadi manajer manufacturing. Di tahun 1989 itu, saya sudah mulai mengenal pimpinan Astra Motor 3 (roda 4 non-toyota), Pak Himawan Surya dan wakilnya, Pak Edi Santoso. Saat itu Astra mau bekerja sama dengan agen tunggal UD Truck Nissan Diesel. Ketika itu ada kunjungan ke Daihatsu Indonesia, karena salah salah satu joint venture Astra dengan Daihatsu. Saya disuruh menerima pihak dari UD Truck. Saya presentasi ke mereka dan mereka kaget bahwa saya bisa bicara bahasa Jepang. Setelah itu saya mulai disuruh merangkap memegang production planning dan kontrol di National Astra Motor sebagai agen tunggal Daihatsu, yang sama seperti ADM. Saya ditarik, namun merangkap di dua kaki setelah diangkat menjadi manajer di Daihatsu. Tahun 1990, saya juga merangkap menjadi GM PPC di Gaya Motor. Jadi saya mulai 3 kaki, di Daihatsu Indonesia sebagai manajer, National Astra Motor sebagai manajer PPC, dan di PT Gaya Motor sebagai manajer PPC. PT Gaya Motor merupakan assembler untuk mobil-mobil Daihatsu, Isuzu, BMW, Peugeot, UD Truck, Nissan Diesel, dan Ford. Lalu, pada 1991, saya diangkat menjadi GM Daihatsu Indonesia.

Secara umum, butuh berapa lama untuk jadi GM dari manajer?

Biasanya, kalau kita melihat sekarang di Astra ada yang namanya penilaian dan bimbingan karya. Setiap tahun dinilai. Kalau penilainnya istimewa terus, kira-kira bisa lima tahun untuk naik jabatan. Saya waktu itu diangkat dalam waktu dua tahun. Bisa juga orang-orang di atas melihat kebutuhan organisasi dan kompetensi, sehingga saya dipercaya untuk jadi GM. Itu yang saya syukuri.

Kembali lagi, saya selalu belajar mengenai skill yang dibutuhkan untuk jadi atasan. Hingga pada suatu saat saya izin kepada atasan saya, ketika saya masih jadi asisten manajer, untuk pulang lebih awal karena saya sudah daftar lokakarya finance untuk non-finance manager yang diadakan oleh Prasetya Mulya. Ketika atasan saya mengetahui itu, biaya lokakarya itu justru dibiayai kantor dan diizinkan untuk pulang lebih awal. Itu sekitar 1987 atau 1988. Saya belajar keuangan karena saya pikir untuk jadi manajer harus mengerti keuangan.

Sudirman MR, Astra, Daihasu, Motor, CEO, Daihatsu Motor Corporation, ADM DMC, Grup Astra, otomotif,

Sudirman MR

Sejak Daihatsu berdiri, Bapak di Daihatsu terus?

Ya. Baru pada 1989, ketika saya jadi manajer, memegang jabatan lain selain di Daihatsu. Saya tahu perkembangan dan naik turunnya kinerja Daihatsu. Misalnya, saat Daihatsu ingin mengeluarkan produk, saya dimarahi karena saya memberi komentar tentang produk tersebut. Itu pelajaran buat saya bahwa mungkin cara penyampaian saya tidak tepat. Namun, apa yang saya katakan waktu itu terbukti di kemudian hari. Pendapat saya benar, tapi ya sudah. Yang penting saya dapat pelajaran. Dan,saya juga tidak pernah menyalahkan pendahulu-pendahulu saya karena kondisi yang memang berbeda. Saya berpikir bahwa keputusan yang terbaik memang telah diambil oleh atasan saya dengan segala pertimbangannya. Dari pengalaman seperti itu pula, jika sekarang terdapat pendapat dari anak buah, saya mendengarkan baik-baik.

Kapan pertama kali mengeluarkan produk di Indonesia?

Daihatsu Indonesia didirikan pada 1978 dan 1979 akhir baru mulai mengeluarkan produknya, Hijet 55, dengan body dibuat di Indonesia. Sebelumnya, sudah menjual yang namanya Hijet S38, Jeep, Taft yang impor CBU. Kemudian baru dilokalkan. Jadi untuk tahap pertama, pabrik itu dibuat untuk melokalkan pembuatan kendaraan bermotor niaga sederhana (KBNS). Setelah itu, pada 1984, Daihatsu Taft sudah mulai dilokalkan, yakni sebagian komponennya sudah dibuat di dalam negeri.

Bagaimana posisi Daihatsu saat itu?

Daihatsu pernah mencapai posisi nomor 1 pada 1983. Setelah itu turun menjadi nomor 3 dan 4. Sampai pernah juga turun ke nomor 5. Adalannya saat itu adalah Hijet 1000. Namun, hanya beberapa saat saja. Kemudian Toyota unggul lagi karena Toyota sejak awal memang nomor satu terus. Awal 2000-an berada di posisi 5. Baru setelah Daihatsu membangun Xenia-Avanza sekitar 2004, mulai naik peringkatnya.

Apa posisi bapak waktu itu?

Secara karier, pada 1991 saya menjadi GM di Astra Daihatsu Motor (ADM), gabungan antara Daihatsu Indonesia, National Astra Motor, Daihatsu Motor Company. Lalu pada Jli 1996, saya diangkat menjadi Direktur PT Gaya Motor. Setahun saya di Gaya Motor, saya lepas dulu dari ADM karena saya full di Gaya Motor. Namun, pada Juli 1997, saya ditarik kembali ke ADM, masih sebagai GM,yang mana saat yang sama saya juga masih menjabat sebagai direktur di Gaya Motor. Pada saat krisis moneter itu, posisi saya di ADM adalah GM yang aktif menangani operasional, terutama di manufacturing dan engineering. Masa itu merupakan masa-masa sulit dalam karier saya karena menghadapi krisis moneter. Saya harus mengurangi karyawan yang notabene orang-orang itu adalah kawan-kawan sendiri. Ada juga yang dulunya adalah atasan saya. Namun, sebagai profesional, saya harus menghadapi kenyataan itu. Perusahaan ini mengalami masa terberatnya saat itu karena beban utang yang besar, sehingga pernah suatu saat pada masa itu, biaya bunga per hari yang harus dibayar ke bank yaitu Rp 400 juta. Hal itu terjadi pasca-krisis, 1998 hingga 2001.

Pada masa krisis, Astra yang tadinya memiliki saham 75% di ADM, direstrukturisasi menjadi 50%. Pada saat itu juga, 1998, saya diangkat menjadi Direktur Manufacturing and Engineering ADM. Jumlah direksi seluruhnay ada 8 orang, , yakni 4 orang dari pihak Astra dan 4 dari pihak Jepang. Saat itu saya juga masih menjabat direktur di Gaya Motor. Tanggung jawab saya saat itu di ADM, yaitu teknikal, engineering, danmanufacturing. Jadi produk apa yang harus dibuat, bagaimana cara membuatnya, bagaimana penyediaan alat-alatnya, itu semua merupakan tanggung jawab saya. Pada saat itu bersama dengan tim DMC memunculkan Xenia Avanza.

Mengapa Xenia dan Avanza mirip?

Saham Daihatsu di Jepang, 50%-nya dimiliki oleh Toyota sejak 1957-an. Pada saat itu sudah terjadi kolaborasi produk antara Toyota dan Daihatsu di Jepang. Ketika itu, kami di Daihatsu memikirkan bahwa pasca-krisis harga mobil melonjak tajam. Kijang semula harganya Rp 30 juta – Rp 40 juta, pasca krisis menjadi Rp 150 juta. Pada kondisi ini, yang dibutuhkan adalah kendaraan untuk keluarga yang minimal bisa menampung 7 orang. Kami sudah lakukan survei mengenai ini, dan model mobilnya disukai adalah yang ada moncong di bagiandepannya. Trennya saat itu ke arah sana. Kami dan teman-teman di DMC sudah memikirkan ke arah sana, namun dengan kisaran harga yang dapat dijangkau khalayak luas. Saat itu kita patok di Rp 60 juta – Rp 70 jutaan. Kita tahu produk Kijang Toyota akan beralih menjadi Innova yang full model change dan harga yang tinggi. Nah, kami tawarkan ke Toyota untuk berkolaborasi memproduksi kendaraan yang spesifikasinya seperti yang dijelaskan tadi dan Toyota ikut menjual produk ini, sama dengan yang terjadi di Jepang. Toyota pun melihat hal yang sama. Akhirnya terjadilah proyek kolaborasi Xenia-Avanza. Setelah jadi, dipisah menjadi 2, yang Daihatsu bernama Xenia dan Toyota bernama Avanza.

Tetapi, masalah selanjutnya adalah pabrik yang memproduksi kendaraan ini. Setelah krisis, kapasitas pabrik ADM sebesar 78.000 per tahun. Sementara, saat itu ADM hanya jualan Daihatsu Taruna dan Zebra yang volume produksi setahun hanya 18.000, atau paling banyak 20.000 unit. Jadi, hanya 25% dari kapasitas produksi. Padahal utang kan besar. Maka saat itu saya pergi ke Jepang dan mengusulkan untuk buat produk di Indonesia, yaitu MPV Xenia-Avanza ini. Gayung pun bersambut untuk membuat produk itu.

Kami menginginkan produksi proyek kolaborasi ini dibuat di pabrik ADM agar kapasitas produksinya bisa terisi.Akan tetapi, Toyota melihat tingkat kualitas pabrik ADM jauh di bawah Toyota. Akhirnya saya membuat timproduction strategy committee yang bertugas menaikkan QCD level ADM agar sama dengan pabrik Jepang. Kami waktu itu harus kerja keras. Ketika pengecekan kedua, akhirnya baru disetujui karena ADM sudah mampu, secara QCD level, untuk membuat produk Toyota. Akhirnya, produksi Toyota diserahkan ke ADM. Pada saat itu terjadi lonjakan produksi. Pada 2004 yang kapasitas produksinya hanya 78.000 unit, mengalami kekurangan kapasitas produksi karena permintaan pasar yang terus meningkat. Kami pun menaikkan kapasitas produksi yang hingga saat ini sudah mencapai 330.000 unit per tahun untuk pabrik di Sunter saja. Saat ini kami tengah membuat pabrik baru lagi di Karawang yang kapasitasnya produksinya 100.000 unit per tahun.

Pada 2006 kita sudah tidak punya utang lagi. Setelah itu, investasi dibiayai dengan kocek sendiri.

Kemudian bapak naik jabatan?

Kebetulan pimpinan sebelumnya sudah memasuki masa pensiun. Lalu, Astra sebagai pemegang saham di sini, menunjuk saya sebagai VP direktur mewakili Astra. Saat itu, untuk membuat Xenia-Avanza butuh modal. Sedangkan Astra International sedang melakukan restrukturisasi, sehingga tidak bisa menambah modal. Akhirnya, saham Astra di ADM berkurang 50% menjadi 32% karena di jual ke DMC. Dan, saat itu sudah fixbahwa Presdir dan Preskom ADM adalah orang Jepang. VP Komisaris dan VP Direktur adalah orang Astra. Pertanyaan berikutnya, mengapa saya jadi presiden direktur? Awalnya juga saya kaget, karena tidak mungkin sebab dalam joint venture agreement, posisi presdir ADM adalah jatah mereka. Namun mereka mempercayakan kepada saya. Mereka memilih saya untuk menjadi Presdir ADM bukan melihat saya sebagai orang Astra, melainkan melihat bahwa Sudirman diangkat sebagai Presdir mewakili Daihatsu Jepang. Sementara,hak Astra untuk mengangkat VP Direktur, justru orangnya dari Jepang. Jadi tidak usah diubah. Legal-nya tetap. Perjanjian seperti itu bisa-bisa saja. Padahal awalnya saya berpikir bahwa paling tinggi saya hanya bisa menjabatvice president director saja. Saya syukuri. Saat Pak Prijono Sugiarto naik jabatan menjadi Presdir Astra International menggantikan Pak Mihael D. Ruslim yang meninggal dunia, saya dipercaya oleh pemegang saham Astra untuk menjadi Direktur Astra International pada Maret 2010. Lalu pada Pebruari 2011, saya diangkat menjadi Presdir di ADM dan pada Juni 2011, saya menjadi Direktur di DMC.

Pada 2011 lalu, umur Daihatsu mencapai 104 tahun. Selama 104 tahun itu baru pertama kali ada orang asing yang menjabat direktur di DMC.

Apa bapak bisa menangkap alasan pihak DMC mengangkat bapak?

Barangkali karena mereka menganggap pasar Indonesia merupakan pasar terbesar dan ADM merupakan perusahaan besar milik mereka dan dianggap banyak berkontribusi terhadap DMC. Saya sudah jadi Presdir di ADM, ya mereka sekalian mengangkat saya jadi direktur di DMC. Itulah yang mengagetkan bagi saya. Mimpi pun tidak.

Apa yang membuat bapak bertahan di Astra?

Manajemen Astra selalu terbuka dan memberi kesempatan orang untuk terus berkarier dan berkarya. Jadi di Astra tidak ada diskriminasi apapun, termasuk dalam hal latar belakang pendidikan dan juga lainnya. Astra hanya melihat kapabilitas.

Apa ada perbedaan jalur masuk antara calon karyawan dengan latar belakang sekolah menengah dan perguruan tinggi?

Tentu beda. Saat ini, kalau masuk dari sekolah menengah, masuk golongan 2. Kalau masuknya dari D3, entry level-nya langsung golongan 3. Kalau dari perguruan tinggi, masuknya golongan 4. Pangkatnya sudahsupervisor. Tapi kalau dari STM, pangkatnya worker, pegawai biasa. Kalau dia beprestasi di pabrik, dia bisa jadi grup leader. Kemudian jika berprestasi lagi bisa menjadi foreman yang setingkat dengan lulusan D3. Kalau dia bagus menjadi foreman, bisa jadi supervisor. Untuk bisa naik golongan, misalnya dari golongan 2 menjadi gologan 3, kira-kira butuh waktu 5 tahun.

Berarti bapak diuntungkan dengan kondisi perusahaan yang baru awal membangun sehingga jabatannya cepat naik?

Ya, saya juga tidak mengerti. Tapi, sebetulnya, waktu saya masuk juga ada penggolongan. Namun, pemimpin perusahaan memiliki hak prerogratif untuk melakukan akselerasi kenaikan pangkat karyawan yang dianggap punya prestasi khusus. Kalau memang orang itu prestasinya bagus terus, bisa saja diberikan akselerasi kenaikan jabatan. Dan, Astra melakukan itu. Astra memberikan kesempatan yang sama kepada karyawan.

Pada saat saya sudah mencapai posisi direktur di ADM pada 1998, banyak karyawan di bawah saya yang dulu bekas atasan saya. Tapi saya respek terhadap mereka. Saya tidak semena-mena kepada mereka. Saya tetap panggil dia “Pak”. Namun keputusan ada di tangan saya karena saya bertanggung jawab sebagai direktur. Malah, pada saat saya masuk, saya masih sebagai staf, mereka ada yang sudah menjabat sebagai asisten manager. Lalu, pada saat saya menjadi asisten manajer, dia sudah menjadi asisten GM. Pada saat saya jadi manager, dia sudah jadi GM. Namun ketika mereka stuck di GM, saya kebetulan jadi GM dan kemudian direktur. Itu fakta hidup yang saya syukuri tapi bukan berarti kita jadi sombong.

Kita berkarier harus clean. Harus tetap dibangun berdasarkan kebersamaan dan kerja tim yang baik. Dari dulu saya lakukan itu, saya ingin keberhasilan diraih tanpa melukai orang lain. Hal ini dipengaruhi oleh falsafah ibu saya yang selalu saya ingat, pertama, kalau kita ingin maju harus bisa menghargai. Ibaratnya kalau kita mancing ikan di kolam, ikannya dapat tapi airnya tetap tenang dan tidak menimbulkan riak-riak. Kedua, makin tinggi pohon makn besar anginnya. Namun kita harus selalu rendah hati.

Itu prinsip Anda dalam berkarier?

Ya, saya pakai itu. Saya selalu membicarakan sesuatu jika ada apa-apa. Kita jangan membuat gundah orang lain,menjaga kebersamaan, manajemen partisipasi. Kita selalu diskusikan, beri kesempatan semua, dan kita putuskan mana yang terbaik. Mengenai keputusan, jika ada beberapa pilihan, karena yang bertanggung jawab adalah direksinya atau pimpinan tertinggi, maka dia harus berani ambil keputusan dan tegas. Kalau memang hasil dari keputusan tersebut tidak sesuai harapan, maka pimpinan paling tinggi harus bertanggung jawab. Dalam bekerja saya tidak mengharapkan pamrih. Karena, kalau kita berbuat yang terbaik, atasan saya akan tahu, tapi yang lebih tahu adalah yang di atas. Bagi saya, kerja adalah bagian dari ibadah.

Bapak anak ke berapa?

Anak kedua dari tujuh bersaudara. Adik-adik saya, semuanya lulusan universitas. Jalan hidup kan macam-macam. Ada yang berkarier dan sukses. Ada yang wiraswasta. Itu keyakinan saya. Adik saya, jauh lebih pintar dari saya. Namun karena dia inginnya wirawasta, ya dia maju, tapi tidak terlalu pesat. Padahal kalau bicara kepintaran, adik saya lebih pintar dari saya. Tapi, kembali lagi, bahwa Tuhan yang menentukan segalanya.

Pekerjaan orang tua?

Ayah saya adalah pejuang, veteran. Lalu dia punya usaha jual material bahan bangunan dan punya usaha angkutan. Tetapi pada masa menjelang saya selesai SLA, ayah saya kurang beruntung, usahanya bangkrut. Haji Maman Kostaman dan Yayah Sumarliah. Ayah masih ada, usianya 83 tahun. Ibu saya meninggal 3 tahun lalu.

Pembelajaran apa yang didapat di Astra?

Ketika orang masuk Astra, terdapat masa orientasi. Diajarkan mengenai Astra dan sistem manajemen Astra. Kemudian karyawan diberikan pelatihan disesuaikan dengan kebutuhan Astra. Terdapat standar pola pendidikan dan pelatihan di Astra selain juga diberikan di masing-masing perusahaan Astra, baik secara internal maupun di luar. Sehingga Astra melihat, selain bisnis yang memang bagus, pola pengembangan pun SDM dipikirkan. Saat ini Astra terkenal dengan manajemen sistem Astra, 3W, yaitu winning concept, winning system, winning team. Sejak awal tahun lalu, Pak Prijono mencanangkan 3P untuk direksi, yaitu portofolio roadmap, people roadmap, public contribution roadmap. Jadi people sejak dulu menempati posisi yang paling penting sebab Astra menyadari bahwa secanggih apapun perusahaan, yang utama adalah man behind the gun.

Bagi saya, pendidikan adalah dasar untuk bekerja. Namun, ketika di dunia kerja, orang harus dilihat dari karakternya. Bukan hanya kapabilitas. Kalau saya punya dua orang yang sama-sama kualitas dan levelnya, saya akan lihat karakternya, karena kapabilitas bisa dibentuk. Astra merupakan ladang yang subur untuk berkembang. Bukan hanya bisnisnya. Bisnis dihasilkan karena punya sistem dan konsep yang baik juga tim yang baik.

Ekspektasi apa yang diajukan oleh principal DMC?

Principal mengharapkan ADM tetap harus menjadi perusahaan yang terbesar bagi Daihatsu di luar Jepang. Untuk bisa mempertahankan posisi seperti itu, ADM harus mencapai kinerja yang terbaik. Setidaknya sama dengan yang ada di Jepang. Memang tanggung jawab saya dipusatkan untuk Daihatsu di Indonesia karena kontribusi Daihatsu di Indonesia kurang lebih 30%-35% terhadap total bisnis Daihatsu. Bagi saya sendiri, bagaimana ke depan ADM? Saat ini ADM merupakan pabrik manufaktur terbesar di Indonesia sejak 2004, setelah produksi Xenia-Avanza. Produk yang dibuat ADM juga khusus untuk pasar Indonesia dan tidak dibuat di negara lain, seperti Xenia-Avanza, GranMax, dan Terios. Sehingga, produk-produk tersebut bisa di ekspor ke beberapa negara lain dan tidak berbenturan dengan principal. Hal ini membuat saya berpikir, ketika membuat produk, berapa pasar dalam negeri dan potensi ekspor. Dengan volume yang banyak, depresiasi/cost makin kecil. Saat ini, kualitas pabrik Daihatsu di Indonesia pun sudah setara dengan standar Jepang. Quality, cost, dandelivery (QCD) pabrik Daihatsu Indonesia se-level dengan pabrik di Jepang sehingga sekarang produk pabrik Daihatsu Indonesia bisa masuk Jepang, yaitu 1000 unit Toyota Town Ace dan Lite Ace.

Sudirman MR, Astra, Daihasu, Motor, CEO, Daihatsu Motor Corporation, ADM DMC, Grup Astra, otomotif,

Sudirman MR

Apa mimpi Anda selanjutnya?

Setelah pencapaian itu, mimpi saya adalah memiliki produk yang didesain dan dikembangkan oleh orang-orang ADM, oleh putra-putra terbaik bangsa Indonesia. Jadi ADM nantinya betul-betul bisa buat mobil, dalam arti merancang mobil dari awal. Terutama yang ingin saya kembangkan rancang bangun di bidang sasis dan bodi mobil. Kami sudahdeal dengan Jepang, dan mereka memberi kesempatan untuk itu. Maka, pabrik yang baru di Karawang yang nilainya Rp 2,1 triliun, saat ini sedang dibangun fasilitas untuk R&D-nya. Saya inginkan nanti minor change, pada salah satu tahap life cycle mobil, dilakukan di ADM. Setelah itu, saya ingin full model change dilakukan oleh ADM. Mudah-mudahan sebelum tahun 2020 sudah bisa terlaksana. Saat ini saya tengah memperkuat dasar-dasar untuk mencapai ke arah sana, sehingga setelah saya tidak di sini lagi, cita-cita ini bisa tetap diwujudkan. Dan, salah satu legacy yang ingin saya tinggalkan di sini adalah ADM memiliki R&D yang bisa menghasilkan produk dan dikembangkan oleh orang-orang Indonesia.

Apa yang membuat Anda bangga di ADM?

Saya bisa mempekerjakan 9.000 karuawan lebih, dari yang sebelumnya saya sempat mengurangi karyawan pada masa krisis ekonomi dari sekitar hampir 5000 karyawan, tinggal sisa 1.800 karyawan. Selain itu, dengan kinerja ADM yang terus meningkat, kami melibatkan 155 pemasok di lapis pertama dan 850 di lapis kedua. Kalau ini ditotal, berpa ratus ribu karyawannya. Itu kebanggaan bagi saya. Tapi yang menjadi tanggung jawab besar bagi saya, bagaimana saya sebagai penarik gerbong (pemimpin) yang bisa membawa gerbong di belakangnya ke arah yang tepat.

Rencana bapak ketika pensiun?

Saya ingin menikmati hidup karena saat ini saya rata-rata bangun pukul 03.30. Pukul 05.40 saya sudah berangkat ke tempat kerja. Pulang ke rumah rata-rata pukul 20.00. Kadang hingga pukul 22.00. Nanti, ketika pensiun, saya ingin santai-santai, ritme hidup yang lebih santai. Mungkin nanti saya bisa jadi konsultan atauadvisor, yang mana saya tetap dapat mengembangkan ilmu yang bisa dimanfaatkan oleh orang banyak. Namun saya tidak mau terikat waktu seperti saat ini. Sekarang ini pun saya tidak terikat waktu. Namun karena dalam rangka tanggung jawab, saya harus berikan contoh. Di Indonesia yang paling penting sebagai pimpinan adalahharus menjadi panutan. Jadi aturan perusahaan dibuat bukan untuk karyawan, tapi untuk seluruh anggota perusahaan, dari atas hingga bawah.

Apa bapak ada bisnis lain?

Tidak ada. Karena saya tidak mau ada conflict of interest. Kalau saya sudah berkarier di sini, saya sepenuhnya bekerja untuk perusahaan. Andai kata saya mau bisnis pun, saya sudah terlambat. Kalau mau bisnis, seharusnya pukul 40 tahun.

Bagaimana Anda memanfaatkan waktu luang?

Hobi saya golf. Namun awalnya saya tidak suka dan terpaksa melakukannya karena banyak mitra Jepang yang hobi main golf. Mulai suka golf pada 1991. Ternyata terdapat beberapa pelajaran dari golf tersebut, yaitu toleransi dan bagaimana mengendalikan emosi. Sebab, main golf adalah lawannya diri sendiri. Kalau tidak sempat golf, saya jogging saja. Kadang saya juga suka baca buku. Baca buku yang ringan-ringan saja, manajemen umum atau buku agama.

August 10, 2012 Posted by | Biography | , , , , , , | 2 Comments

APICS – IPOMS Surabaya Study Group


Diinformasikan bahwa Grup Studi Surabaya (Surabaya Study Group) akan mengadakan pertemuan dengan materi Supply Chain Professional 2, yang akan disampaikan oleh I Nyoman Pujawan, Ir., M.Eng., Ph.D., Prof., CSCP. (Dosen Industrial Engineering – Institut Teknologi Sepuluh Nopember)

 

Yang akan diselenggarakan pada:

 

Hari dan Tanggal : Minggu, 15 April 2012

Jam                   : 09.00 – 14.00 

Fasilitas             : – Makan Siang

                          – Sertifikat

                          – Materi

Lokasi PT IMS Logistic, sebagai berikut:

Tempat              : PT IMS Logistics, Jalan Raya Waru KM 15, Aloha – Waru, Sidoarjo

 

April 1, 2012 Posted by | Uncategorized | , , , , | 1 Comment

Seminar Building business Competitiveness 22 Oktober 2011


Persaingan bisnis saat ini menunjukkan persaingan yang cukup ketat bahkan sampai pada persaingan global. Oleh karena itu industri dituntut untuk melakukan inovasi di semua aspek agar mampu mempertahankan tingkat persaingan. inovasi dan strategi yang matang harus dimiliki oleh para pemangku kepentingan yang ada di industri untuk menghadapi ketatnya persaingan bisnis saat ini. Iklim bisnis di Indonesia dewasa ini ditandai dengan ketidakpastian dan penurunan kinerja sejumlah aktifitas bisnis. Hal ini disebabkan karena para wirausahawan belum memanfaatkan potensi yang ada secara optimal yang dapat digunakan sebagai modal dalam menghadapi persaingan, baik lokal maupun internasional. Indonesia memiliki potensi yang bardaya saing tinggi, sebuah peluang bagi para wirausahawan untuk mengolah potensi yang ada menjadi keunggulan bisnis. Pertumbuhan industri Manufaktur di Indonesia sudah cukup baik meskipun kita ketahui bersama pertumbuhan impor Produk luar juga meningkat. Persaingan global saat ini menyebabkan industri di dalam negeri harus berusaha meningkatkan daya saing produknya agar dapat memenangkan persaingan ini. Maka sudah seharusnya pelaku di dunia Industri Manufaktur melakukan berbagai inovasi bisnis, Karena merupakan suatu keharusan agar dapat mengkonversi tantangan/hambatan menjadi suatu peluang (opportunity). Menyikapi hal tersebut maka kami IPOMS GROUP SURABAYA bekerjasama dengan Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya Jurusan Teknik Industri mengadakan Seminar Sehari dengan tema:

 

Building Business Competitiveness in Global Competition Era”

Dengan menghadirkan narasumber dari unsur Profesional dalam bidang Supply Chain Management, untuk memberikan masukan dan pandangannya mengenai bagaimana cara membangun sebuah industri sehingga dapat meningkatkan daya saing bangsa.

 

SPEAKER

President of IPOMS : Harianto Salim

Vice President of IPOMS, Supply Chain Professional : Marshall Saluding ST. MM, CPIM

Executive Director of Business Innovation Center ; Ir. Kristanto Santosa, M.Sc

 

ACARA

 

Seminar

Sehari ini akan diadakan pada:

Hari, tanggal       : Sabtu, 22 Oktober 2011

Waktu                : 08.00 s/d 15.30 WIB

Tempat              : Universitas Katolik Widya Mandala (RUANG A301)
Jl. Dinoyo 42-44 Surabaya

 

INVESTASI

Biaya Pendaftaran Sebelum 15 Oktober 2011

Mahasiswa / Member GSS IPOMS                       Rp. 125.000,–

Umum                                                                Rp. 250.000,–

Biaya Pendaftaran On The Spot
Mahasiswa / Member GSS IPOMS                       Rp. 150.000,–

Umum                                                                Rp. 300.000,–

 

Fasilitas : Seminar Kit, Coffebreak and Lunch, Serfifikat Peserta

Diskon 15% bagi yang mengirimkan empat orang peserta dari satu perusahaan.

 

 

REGISTRASI DAN INFORMASI

Form Pendaftaran Seminar Sehari Building Business Competitiveness in Global Competition Era
Name: ………… ……… …
Company: ………… ……
Address: ………… ……..
Phone/HP: ………… …..
E-mail: ………… ……… ..
Date of Transfer: ……..

setelah diisi mohon di kirimkan ke email panitia atau silahkan download form pendaftaran (See attachent)

 

Contact Person

Wijanarko (+6281 931 214 336)
Joko Mulyono (+6231 3891264 EXT:110)
Rahadian Prabowo (+628563079100)

Email: wijanarko.kertowijoyo@imslogistics.commulyonojoko@yahoo.co.idtaufanyanuar@yahoo.com, mail@rahadianprabowo.com

No Rekening Panitia :

Bank Central Asia (BCA) ,
No Rekening : 464-1388-348 A/n :Shirley Limoseputro

 

 

Tempat terbatas, segera daftarkan diri anda..

September 26, 2011 Posted by | Event | , , , , , , | Leave a comment

MARI BELAJAR GAYA HIDUP BANGSA CHINA


Oleh : KH. A. Hasyim Muzadi
Pengasuh Pesantren Mahasiswa Al Hikam Malang

Saya ingin menyampaikan sesuatu yang menarik tentang RRC (Tiongkok) kepada kamu semua. Dengan perjalanan ini, saya menjadi lebih mengerti kenapa Rasulullah SAW menganjurkan kita supaya mencari ilmu, sekalipun ke Negeri China. Saya perhatikan ada beberapa kekhususan dari China, yaitu:
1. Segi Historis (Sejarah)
China adalah bangsa yang tua karena beribu-ribu tahun sebelum masehi, China sudah menjadi bangsa yang besar bersama dengan Romawi, Yunani, Persia, India, dll. Ini adalah bangsa-bangsa tua yang ribuan tahun sebelum masehi sudah dikenal dalam sejarah.

 

Continue reading

August 16, 2011 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

Guide: To Import Outlook Contact to Blackberry


Bagi yang mempunyai Blackberry segala tipe ataupun Yang akan mempunyai berikut adalah cara untuk import email address / contacts di MS Outlook ke blackberry menggunakan Blackberry Desktop Manager. Jadi BB anda harus ditancapkan ke komputer / laptop anda terlebih dahulu menggunakan kabel data.

Berikut step-stepnya:

Continue reading

July 18, 2011 Posted by | Tips | , , , | Leave a comment

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.